Page 149 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 149
"Takdir kita tak tertulis tentang cinta," ucap Teguh
pasrah.
"Kita belum mencoba," jawab Lastri sambil
menggenggam jemari pria pujaannya itu. Tekad bulat Lastri
seakan menjalar melalui genggaman tangannya.
“Mungkin benar jika kami berdua belum mencoba
menghalau penghalang yang menghadang,” bisik hati Teguh
menyemangati diri.
Angin laut semakin menggigilkan raga mereka. Namun,
hati Lastri menghangat menatap tangan mereka yang saling
menggenggam. Perempuan berwajah manis itu tahu apa
yang akan dihadapinya nanti. Penolakan yang mungkin akan
melukai harga dirinya dan keluarganya. Namun, dia tak
peduli.
Bukankah segala sesuatu harus diperjuangkan? Rasa cinta
yang dia rasakan pada lelaki di sampingnya ini terus tumbuh
mengakar kuat. Menumbangkan segala kekhawatiran yang
terkadang singgah di lubuk hati terdalam.
Lastri berpikir, sudah bukan zamannya cinta harus
mengalah pada perbedaan status. Perubahan zaman telah
menyamarkan segala batas menjadi setara dan pantas
disandingkan. Lastri bertekad untuk memperjuangkan kisah
mereka sampai ijab kabul dilafazkan.
Biarkan badai datang
Kan kuanyam rambut legammu
Kusuntingkan seroja mewangi
Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta | 137

