Page 21 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 21
Hatiku luluh mendengar ucapannya. Genangan air yang
berkaca‐kaca itu tumpah. Tak sanggup mengaliri pipi ini.
Hanya doa yang tak putus‐putus kulafazkan untuk lelaki yang
sangat kucintai itu.
Setiap hari kami selalu berkomunikasi melalui HP. Baik
video call, chat WhatsApp, atau telepon. Keadaan Aditya
masih baik‐baik saja. Dia masih bertanya sampai di mana
persiapan pernikahan kami.
Minggu kedua di rumah sakit, kondisi Aditya menurun.
Napasnya sesak. Dia dipindahkan ke ICU. Tulangku serasa
patah, lunglai. Tak percaya dengan berita yang kudengar dari
Bu Muliati, Ibunya Aditya.
Tak sampai satu hari di ICU. Calon lelaki terhebatku
menghadap Sang Pencipta. Tak ada pesan untukku. Aku
berteriak. Hatiku benar‐benar hancur. Belum sempat rumah
tangga kami jalani, Allah menakdirkan kekasihku pergi. Covid‐
19 telah memisahkan kami.
Pergilah
Bawa semua cintaku
Kuingin semua kenangan indah kita
Terpatri di sini
Kuantar September dengan tubuh menggigil
Hujan terakhir telah kucatat pada petang yang suram
Dan mengatakan padamu, “Aku sangat mencintaimu.”
Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta | 9

