Page 144 - Transmisi Nilai-nilai Pertanahan di Kabupaten Magetan
P. 144

Pelaksana Transmisi Nilai-Nilai Pertanahan
                    atau kesahihan  data.  Voluntarisme menjadi  modal
                    terselenggaranya kerjasama  dan kebersamaan  di  kalangan
                    petani, ketika nilai-nilai pertanahan masa kini dimanfaatkan
                    sebagai  dasar bertindak.  Transmisi  nilai-nilai  pertanahan
                    masa  kini  dari  seluruh petugas  kantor pertanahan  yang
                    terlibat kegiatan kepada  petani  selanjutnya berproses,
                    sehingga terjadi internalisasi nilai pada diri masing-masing
                    individu petani,  yang  meliputi upaya  harmonisasi  antara
                    norma dan kondisi setempat.

                  b.  Alasan Transmisi

                        Alasan  transmisi  nilai-nilai  pertanahan masa kini
                    diungkapkan oleh Sekretaris Desa Cepoko, tahun 2006-2015
                    (Suwarno D.) dengan menjelaskan, bahwa ada alasan kuat,
                    yang menyebabkan para petani bersedia mengikuti program
                    sertipikasi hak atas tanah. Salah satu alasan kuat yang ada di
                    kalangan para petani adalah keinginan untuk mengagunkan
                    tanah, yang akhirnya akan membutuhkan sertipikat hak atas
                    tanah.  Lebih  jauh  Suwarno  D.  menjelaskan,  bahwa pernah
                    ada  bidang  tanah yang  disertipikatkan, yang  kemudian
                    tanahnya  diagunkan ke bank.  Tetapi  karena  usaha  dagang   BAB III
                    yang dilakukan tidak berhasil, dan uangnya juga digunakan
                    untuk membiayai anaknya yang mencalonkan diri menjadi
                    anggota DPR (Dewan Perwakilan Rakyat), maka  akhirnya
                    pemilik tanah tersebuti bangkrut dan tanahnya dilelang oleh
                    bank, dengan nilai Rp. 110 juta.

                        Tindakan Bank melelang bidang tanah yang diagunkan
                    dapat dilihat dari  sisi  institusional  dan  kultural.  Pada  sisi
                    ini, tindakan pihak bank dapat dimaklumi, karena begitulah
                    “bunyi”  norma  dan kepercayaan  yang berkaitan  dengan
                    hutang  pitang.  Selain  itu,  tindakan  pihak  bank  juga dapat
                    dilihat dari sisi relasional, yang memusatkan perhatian pada

 124                                    Transmisi Nilai-Nilai Pertanahan   125
   139   140   141   142   143   144   145   146   147   148   149