Page 173 - Transmisi Nilai-nilai Pertanahan di Kabupaten Magetan
P. 173
Aristiono Nugroho dkk.
bagi pemenuhan kepentingan para petani, maka segenap
petani mendukungnya. Saat para petani mendukung dan
“hanyut” dalam transmisi nilai-nilai pertanahan masa kini,
mereka menyadari perlunya kerja-sama sesama petani.
Ketika terjalin kerjasama sesama petani, ikhtiar ini
menguatkan daya kohesi sosial di kalangan petani. Daya ini
secara lambat laun mengintegrasi para petani hingga semakin
kuat, dan memudahkan mereka memperoleh konsensus
bagi upaya kolektif perlindungan hak atas tanah. Konsensus
berguna sebagai “amunisi” saat para petani berkonflik dengan
pihak luar, yang ingin merusak dan menggagalkan pencapaian
kepentingan petani. Wujud pelaksanaan konsensus berupa
kesediaan para petani melaksanakan penunjukan batas,
sebagaimana telah diungkap oleh Suwarno D.
Senada dengan Suwarno D., Kepala Desa Banjarpanjang
(Sarbini, S.T.) menjelaskan, bahwa saat pelaksanaan PRONA
di desanya, penunjukan batas oleh para petani dibantu Panitia
PRONA Desa, dengan cara: (a) tetangga yang berbatasan,
kepala dusun, petugas dari Panitia PRONA Desa, dan pemilik
tanah menetapkan batas bidang tanah; (b) memasang patok
sementara berupa patok bambu atau patok kayu sebagai
tanda batas; dan (c) mengganti patok sementara dengan
patok beton, yang merupakan patok permanen. Setelah
patok beton dipasang oleh para petani barulah dilakukan
pengukuran oleh petugas ukur Kantor Pertanahan Kabupaten
Magetan, yang untuk 700 bidang diukur oleh 12 orang petugas
ukur selama 2 (dua) bulan.
Penunjukan batas oleh petani memiliki fungsi sebagai
instrumen legitimasi kepemilikan tanah, yang diperkuat oleh
kesaksian para petani lain yang berbatasan bidang tanahnya.
Fungsi ini mampu memperlihatkan secara general dan
154 155

