Page 178 - Transmisi Nilai-nilai Pertanahan di Kabupaten Magetan
P. 178
Pelaksana Transmisi Nilai-Nilai Pertanahan
melakukan hal sama, yaitu mendorong para petani untuk
menerapkan nilai-nilai pertanahan masa kini.
Hal yang mirip dengan yang diungkapkan Sarbini,
S.T. juga diungkapkan Ketua Gapoktan “Tani Manunggal”
Banjarpanjang (Sukiran) yang menjelaskan, bahwa tetangga
yang lebih luas, dan masyarakat di sekitarnya juga mendukung
para petani dalam hal perlindungan kepemilikan tanahnya.
Lebih jauh Sukiran menyatakan, bahwa para petani baru
mampu melindungi tanahnya, bila secara adat setempat,
mereka memang berhak atas tanah tersebut.
Adat setempat menjadi dasar pengakuan kepemilikian
dan batas bidang tanah secara general boundaries, yang
selanjutnya dilakukan pengukuran oleh petugas ukur untuk
memperkuat kepemilikan dan menetapkan batas bidang
tanah secara fix boundaries. Dalam konteks ini tidak ada
posisi atas dan bawah di kalangan petani, karena mereka
mendapat pelayanan yang sama dari petugas ukur. Perbedaan
luas tanah yang dimiliki tidaklah membuat para petugas ukur
memberi pelayanan yang berbeda. Petugas ukur hanya akan
memberikan data dan informasi luas tanah yang berbeda, BAB III
tetapi dalam bentuk dan kualitas pelayanan yang sama.
Secara faktual Sukiran menjelaskan, bahwa setelah
secara adat para petani diketahui berhak (misal melalui jual
beli, waris, atau hibah), barulah mereka dapat melakukan
usaha perlindungan atas tanah secara hukum. Perlindungan
mereka semakin meyakinkan, saat para tetangga batas
mendukung dan mengakui haknya. Menurut Sukiran,
perlindungan bidang tanah di masa datang semakin penting,
karena tanah bagi petani juga semakin penting. Bila tidak ada
perlindungan, maka suatu saat nanti dapat menimbulkan
sengketa.
158 Transmisi Nilai-Nilai Pertanahan 159

