Page 219 - Transmisi Nilai-nilai Pertanahan di Kabupaten Magetan
P. 219
Aristiono Nugroho dkk.
pelaksanaan pengukuran bidang tanah oleh petugas kantor
pertanahan berjalan lancar.
Sengketa batas tanah dan sengketa waris merupakan
dua hal, yang secara akademis menarik untuk dibahas. Tetapi
Sukiran menyatakan, bahwa ia berharap agar dua hal tersebut
tidak terjadi saat pelaksanaan PRONA, karena proses untuk
menyelesaikannya membutuhkan waktu, sehingga dapat
menghambat pelaksanaan PRONA. Walaupun akhirnya
dua hal ini terjadi juga saat pelaksanaan PRONA di Desa
Banjarpanjang, namun Sukiran bersyukur, karena ia dibantu
Kepala Dusun Panjang (Sadirun) dan Kepala Dusun Pulutan
(Zainudin).
d. Prospek Harmoni Sosial
Ketika para petani telah memandang pentingnya
harmoni sosial, maka hal ini dapat membuka prospek bagi
diperjuangkannya harmoni sosial di masa depan. Prospek
semakin baik, ketika pemerintah, petani, dan masyarakat
desa bekerjasama untuk mewujudkan harmoni sosial. Situasi
dan kondisi ini memberi harapan, dan peluang bagi seluruh
elemen atau unsur desa untuk berpartisipasi. Prospek terus
semakin baik, karena pada faktanya situasi dan kondisi ini
(harmoni sosial) memang diperlukan seluruh elemen desa.
Partisipasi dan kebutuhan merupakan dua kata kunci
bagi upaya mewujudkan harmoni sosial, yang boleh jadi
dipandang sebagai sesuatu yang bersifat sederhana, tetapi
ternyata dalam pelaksanaannya tidaklah sederhana. Ada
kelayakan situasi dan kondisi yang dibutuhkan, bagi
hadirnya partisipasi petani dalam mewujudkan harmoni
sosial. Kelayakan tercipta saat petani, pemerintah desa, dan
masyarakat umum di desa tersebut mengakui, bahwa mereka
membutuhkan harmoni sosial. Pemahaman ini mengaitkan
200 201

