Page 27 - REFORMA AGRARIA INKLUSIF
P. 27

BAB II

                     Reforma Agraria Inklusif:

                     Upaya Mempertemukan
                     Reforma Agraria dan GEDSI







            Bab ini membahas dua gagasan besar secara terpisah untuk kemudian
            diramu bersama, yaitu Reforma Agraria dan GEDSI (Gender Equality
            Disability and Social Inclusion).

                Setelah Proklamasi Kemerdekaan, Indonesia yang belia hendak
            menghapus “trauma sejarah” selamanya dalam kehidupan berbangsa
            dan bernegara, sehingga Kolonialisme dan Feodalisme  tidak diberi
            kesempatan hidup kembali, Pasal 33 ayat (3) Konstitusi dan Diktum
            IV UU  No 5  Tahun 1960  tentang Peraturan Dasar Pokok  Agraria
            (UUPA) menegaskan hal itu. Indonesia bukan lagi Hindia Belanda
            di mana Domein Verklaring (DV) berlaku, Republik Indonesia adalah
            negara bangsa baru yang mengambil alih tatanan modern kekuasaan
            sebelumnya,  sekaligus  mengubah  total  wataknya: dari  melayani
            penguasa menjadi melayani rakyat.
                Terlepas dari kemunculan gerakan perempuan dengan berbagai
            ideologinya  masing-masing  di masa  awal  kemerdekaan hingga  era
            Soekarno, dalam  kelimpahan  sumberdaya waktu  itu,  persoalan
            keadilan sosial terkait gender dan disabilitas dalam Reforma Agraria
            belum terpikirkan sebagai hal yang vital; isu gender dan pembangunan
            baru muncul  kembali seiring dengan pengangkatan Menteri  Muda
            Urusan Peranan Wanita (1978-1983)  ketika  makna  Reforma Agraria
            dirombak oleh Orde Baru menjadi Pembangunan. Reforma Agraria
            belum benar-benar terwujud, ditambahi dengan beban sejarah tata
            pengurusan tanah; air; dan udara atau Sumber-sumber Agraria (SSA)
            berupa  ketidakadilan  berbasis gender dan disabilitas.  Revitalisasi
   22   23   24   25   26   27   28   29   30   31   32