Page 28 - REFORMA AGRARIA INKLUSIF
P. 28

Reforma Agraria pascareformasi pun  masih  sepi  dari  perdebatan
            produktif mengenai  strategi  dan  taktik menjaga Reforma  Agraria
            yang inklusif, meskipun secara normatif amanat berkeadilan sosial itu
            sudah tertera dalam TAP MPR No IX Tahun 2001 dan UU No 5 Tahun
            1960 tentang Peraturan Dasar Pokok Agraria.


            1.  Reforma Agraria: Penataan Aset dan Penataan Akses
            a.  Apa itu Reforma Agraria?
                Reforma Agraria dibatasi sebagai perombakan struktur (tatanan)
            pemilikan,  penguasaan,  dan  pemanfaatan  sumber-sumber agraria
            secara menyeluruh dan komprehensif oleh negara, agar ada jaminan
            petani  (peasant)  mempunyai  alat  produksi (tanah)  sehingga
            kesejahteraannya meningkat,  kemudian  pada  gilirannya  terjadi
            perubahan masyarakat  perdesaan  yang berkeadilan (Wiradi  2009).
            Fox cit. Borras (2007) berpendapat bahwa tujuan Reforma Agraria ialah
            untuk mengalihkan aset/kekayaan, utamanya tanah, dari kelompok
            kaya  kepada  kelompok  miskin  dan  tuna  kisma.  Reforma  Agraria
            merupakan jalan untuk menghindari atau menangani ketimpangan
            ekonomi sebagai akibat akumulasi sumberdaya oleh segelintir pihak
            (Salim  dan Utami  2019). Secara kelembagaan, negara bertanggung
            jawab dalam penyelenggaraan Reforma Agraria yang diawali dengan
            penyiapan produk hukum dan infrastruktur kebijakan (Lipton 2009).

                Menurut UU No 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok
            Agraria (UUPA), Sumber-sumber Agraria (SSA) meliputi bumi (tanah),
            air,  ruang angkasa  (udara) dan  kekayaan alam yang  terkandung di
            dalamnya—istilah  Sumber-sumber  Agraria dipilih dalam  karya  ini
            daripada istilah Sumber Daya Alam/Agraria (SDA) atau Aset dalam
            arti tanah karena kedua istilah tersebut bias kepentingan ekonomi
            semata dan berorientasi komodifikasi ibu pertiwi (memperlakukan
            SDA atau  Aset  sebagai  barang  dagangan),  padahal  relasi  manusia
            dengan tanah; air; dan udara melampaui kepentingan ekonomi dan
            akumulasi laba. Di antara SSA itu, hanya tanah yang dapat dilekati
            hak  untuk  dimiliki dan  dikuasai,  meskipun  tetap  berfungsi  sosial.
            Hingga saat ini, obyek Reforma Agraria masih berupa tanah.




                                                                 BAB II   13
                      Reforma Agraria Inklusif: Upaya Mempertemukan Reforma Agraria dan GEDSI
   23   24   25   26   27   28   29   30   31   32   33