Page 222 - Ayah - Andrea Hirata
P. 222

Ayah ~ 209


            memandang kosong, banyak yang diam menunduk, ada pula

            yang tersenyum-senyum.
                 Seperti dirinya, setiap orang memang berusaha berpa-
            kaian sebagus mungkin. Getir hati Sabari mendapati bahwa
            di tempat orang akan mengalami hal yang pahit, orang-orang
            justru berpakaian bagus seperti Lebaran. Dan, tak tega dia

            melihat anak-anak kecil yang dibawa orangtuanya ke ruang
            tunggu itu. Mereka menangis,  kepanasan, ingin  menyusu,
            minta pulang, minta ini dan itu. Jeritan mereka merisaukan.
            Anak-anak kecil itu lalu digendong bergantian oleh ayah dan
            ibunya yang mau bercerai.
                 Sabari teringat akan Zorro, sendi-sendi tubuhnya lum-
            puh. Dia duduk terkulai. Di ruang tunggu pengadilan, Sabari
            merasa betapa kejam hidup ini. Dia ingin segera pulang, ingin

            cepat-cepat memeluk anaknya.
                 Ukun dan Tamat lebih tertarik akan dandanan mereka
            ketimbang apa yang akan dialami  Sabari.  Keduanya sibuk
            membetulkan jambul dan memandang-mandang sekeliling.
            Terutama memandangi wanita-wanita muda. Bagi  mereka,

            kunjungan ke pengadilan  agama  bak  piknik yang  menye-
            nangkan.
                 Tamat menunjuk satu arah. Di sana, Marlena datang
            dengan seorang lelaki  yang tampak sangat terpelajar  dan
            berpakaian seperti seorang direktur. Lengkap dengan koper
            kecilnya. Lena segera menarik perhatian sebab dia memang
            elok. Berbaju bagus untuk sidang membuatnya semakin me-
   217   218   219   220   221   222   223   224   225   226   227