Page 224 - Ayah - Andrea Hirata
P. 224

Ayah ~ 211


            sudah ditempuh, tetapi gagal, maka sudah saatnya berlayar

            menuju dermaga yang berbeda-beda.
                 Sesekali Lena angkat bicara, tangkas, tinggi, dan sengit.
            Sabari bahkan tak berani menoleh ke arahnya. Di belakang-

            nya, di tempat duduk untuk pengunjung sidang, Tamat dan
            Ukun mengangguk-angguk penuh gaya.
                 Sabari tenggelam dalam berupa-rupa delik, pasal demi
            pasal Undang-Undang Perkawinan, kata menimbang, mengi-
            ngat, memutuskan ini dan itu. Dia mengangguk-angguk mes-

            ki tak tahu mengangguk untuk apa. Tahu-tahu dia terperan-
            jat mendengar Yang Mulia Hakim bertanya kepadanya.
                 “Adakah yang ingin Saudara sampaikan?”

                 Sabari tergagap-gagap. Dia menoleh ke arah Ukun dan
            Tamat. Kedua sahabatnya itu malah menoleh ke arah gam-
            bar burung Garuda Pancasila. Sabari semakin gugup. Demi-
            kian  berwibawa  ruang sidang itu  baginya, demikian  hebat
            orang-orang yang ada di sekelilingnya sehingga apa pun yang

            dituduhkan dia akan mengaku saja.
                 Sabari menatap Yang Mulia. Sebenarnya, ingin sekali
            dia mengatakan bahwa silakan majelis memutuskan apa saja

            asal tidak memutuskan hubungannya dengan Zorro. Namun,
            dilihatnya Marlena memelotot ke arahnya, matanya besar
            macam  buah mentega, mulutnya siap menyemburkan api.
            Sabari tak dapat berkata-kata.
                 “Jadi, apakah Saudara menerima putusan?”
   219   220   221   222   223   224   225   226   227   228   229