Page 244 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 244

dinginnya angin sore. Ah, Farras dan segala manisnya. Ia bahkan

          mengaku dengan sengaja mengambil rute memutar, membiarkan

          roda motornya menempuh jarak yang jauh lebih panjang, semata-
          mata agar untaian kata  di antara kami tak lekas menemui titik

          akhir.
               Siapa sangka, di atas jalanan yang ia panjang-panjangkan itu,

          tergelar sebuah percakapan yang kelak menjadi jurang pemisah

          kami.  Sebuah  titik  balik  yang  muram  di  penghujung  bulan
          Februari. Entah bagaimana mulanya, arus obrolan kami bermuara

          pada  satu  prinsip  yang  kupegang  teguh:  tentang  kesucian  dan

          masa  lalu  seorang  laki-laki.  Dengan  nada  yang  tak  menyisakan
          ruang untuk kompromi, aku menyuarakan isi kepalaku. Bagiku,

          segunung harta dan seluas samudera kecerdasan tak akan pernah

          cukup untuk membuatku bertekuk lutut, jika laki-laki itu tak lagi
          utuh masa lalunya. Aku tak ingin bersama seseorang yang tidak

          perjaka.

          "Nikah itu bukan cuma urusan perjaka atau tidaknya seseorang,"
          sanggahnya  saat  itu,  suaranya  terdengar  beradu  dengan  deru

          mesin dan angin jalanan.

          "Aku mengerti,"  balasku cepat tanpa keraguan, "tapi aku udah jaga
          diri, ngga adil kalo pada akhirnya aku harus bersanding dengan

          seseorang yang hanya menyisakan 'bekas' dari masa lalunya."


                                                                        244
   239   240   241   242   243   244   245   246   247   248   249