Page 249 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 249
Kalimat-kalimat berikutnya dipenuhi rentetan kata maaf yang
tulus.
Aku menghela napas, namun sama sekali tidak merasa
kecewa atau marah. Aku sangat memaklumi dunianya yang sibuk.
Farras, dengan rasa tanggung jawabnya yang tinggi, langsung
menawarkan solusi lain: "Aku pesenin lewat Gojek aja ya beb
obatnya? Maaf banget ya."
Aku cepat-cepat menolaknya. Bagiku, jika bukan dia sendiri yang
membawakannya, esensi "pahlawan" yang kuinginkan tadi sudah
pudar, dan aku bisa mengurus diriku sendiri nanti malam. Namun,
penolakanku justru membuatnya semakin dirundung rasa
bersalah. Dia terus-menerus merasa bersalah dan tidak enak hati,
padahal di seberang ponsel ini, aku justru sedang tersenyum geli.
Sungguh menggemaskan melihatnya sekhawatir itu, padahal aku
sendiri sama sekali tidak mempermasalahkannya.
249

