Page 252 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 252
mau pergi, kenapa mereka malah berkumpul di sini seolah kamar
ini markas umum?" gerutuku dalam hati, merasa privasiku
terinvasi di saat aku sedang gelisah menunggu.
Pukul empat sore, Farras mengabarkan kehadirannya. Saat
aku berpamitan, Kak Retha yang baru naik dari bawah berseru
dengan wajah terkejut, "Dek, itu cowokmu nunggu di depan?
Kakak kaget, kirain di luar, ternyata duduk di teras. Mana Kakak
cuma pakai celana pendek!" Aku hanya bisa tersenyum kecut,
merasa malu sekaligus tak enak hati karena Farras sudah
menganggap kost ini seperti rumahnya sendiri tanpa batas.
Aku bergegas turun, menemui "pangeranku" yang hari itu
tidak membawa kereta kencana, melainkan motor yang kemudian
melaju membelah jalanan menuju Jakarta Pusat.
"Kita makan sup kaki sapi, ya?" ajaknya.
"Aku tidak terlalu suka sup daging," balasku, nada suaraku sudah
mulai meruncing.
"Di sana menunya bukan cuma daging beb”, kilahnya santai.
Jujur, egoismenya dalam menentukan tempat makan selalu
berhasil menyulut api dalam dadaku. Kami selalu bertolak
belakang dalam selera, dan ia selalu memaksa aku mengikuti
dunianya. Sepanjang jalan, aku hanya diam, menahan sesak yang
tak terkatakan. Ia kemudian membawaku bernostalgia, melintasi
252

