Page 245 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 245
Angin di seberang sana seolah berhenti berhembus ketika ia
kembali bertanya, pelan dan terdengar berhati-hati, "Bagaimana
kalau takdir menggariskan jodohmu memang seperti itu?"
"Jodoh emang rahasia langit, Tuhan yang menakdirkan," tegasku,
seolah sedang memahat prinsip di atas batu, "tapi kita sebagai
manusia diberi hak untuk memilih. Kita yang menentukan langkah
dan pilihan. Perkara itu sungguh takdir jodoh kita atau bukan,
barulah Tuhan yang memutuskannya di akhir. Entah pada
akhirnya dipisahkan oleh maut, atau justru dipisahkan oleh
perceraian."
Hening sejenak menjeda kami. Suara klakson di latar belakang
seakan meredup. Lalu terdengar satu kata darinya, "Iya."
Singkat, sangat singkat. Namun kini aku tahu, ada getir dan getar
yang berbeda dalam satu kata itu. Sesuatu yang rapuh, seolah ada
yang patah di seberang sana. Kala itu, aku tak mengerti makna di
balik pias suaranya. Kesadaran itu baru merayap pelan ketika aku
duduk sendirian, mencoba memutar kembali rekaman suara
percakapan kami di sore itu. Entah dorongan gaib apa yang selalu
membuatku merekam setiap obrolan kami. Mungkin intuisi
terdalamku sudah berbisik sedari awal, bahwa pada akhirnya,
suaranya hanya akan menjadi artefak kenangan yang tersimpan
dalam ruang memoriku.
245

