Page 27 - Islamic-theology-Ibnul-Jawzi-membongkar-kesesatan-akidah-Tasybih-meluruskan-penyimpangan-dalam-memahami-sifat-sifat-Allah-Nurul-Hikmah-Press-173-Hal
P. 27

Islamic Theology  | 19

           menapaki  jalan  moderat;  jalan  antara  tidak  berlebihan  dan  tidak
           teledor  (Bayn  Tharîqay  al-Ifrâth  Wa  at-Tafrîth).  Berikut  ini  kita
           berikan contoh sebagai pendekatan bagi orang-orang yang kurang
           paham;  sebagaimana  para  ulama  selalu  membuat  contoh-contoh
           untuk  tujuan  mendekatkan  pemahaman,  juga  sebagaimana  Allah
           dalam  al-Qur„an  sering  menggambarkan  contoh-contoh  bagi
           manusia sebagai pengingat bagi mereka. Kita katakan bagi mereka
           yang memiliki akal; sesungguhnya perumpamaan akal sebagai mata
           yang  melihat,  sementara  syari„at  sebagai  matahari  bersinar.  Siapa
           yang  mempergunakan  akal  tanpa  mempergunakan  syari„at  maka
           layakanya  ia  seorang  yang  keluar  di  malam  yang  gelap  gulita,  ia
           membuka  matanya  untuk  dapat  melihat  dan  dapat  membedakan
           antara objek-objek yang ada di hadapannya, ia berusaha untuk dapat
           membedakan antara benang putih dari benang hitam, antara merah,
           hijau, dan kuning, dengan usaha kuatnya ia menajamkan pandangan;
           namun  akhirnya  dia  tidak  akan  mendapatkan  apapun  yang  dia
           inginkan,  selamanya.  Sementara  orang  yang  mempergunakan  akal
           dan syari„at secara bersamaan maka ia seperti orang yang keluar di
           siang hari dengan pandangan mata yang sehat, ia membuka kedua
           matanya  di  saat  matahari  memancarkan  cahaya  dengan  terang,
           sudah  tentu  orang  seperti  ini  akan  secara  jelas  mendapatkan  dan
           membedakan di antara warna-warna dengan sebenar-benarnya, ia
           dapat membedakan antara warna hitam, merah, putih, kuning dan
                   34
           lainnya”.
                  Kaedah-kaedah di atas sama sekali tidak berlaku bagi kaum
           Musyabbihah  Mujassimah  (Kaum  Wahhabi  di  masa  sekarang).
           Mereka  adalah  kaum  yang  menyerupakan  Allah  dengan  makhluk-
           makhluk-Nya.  Mereka  mayakini  bahwa  Allah  memiliki  tubuh,
           anggota-anggota  badan;  kepala,  mata,  telinga,  mulut,  tangan,  kaki,
           betis,  hingga  jari-jari,  serta  tempat  dan  arah.  Celakanya,  mereka



                  34
                     Hazz al Ghalashim Fi Ifham al Mukhashim,  h. 94
   22   23   24   25   26   27   28   29   30   31   32