Page 24 - Islamic-theology-Ibnul-Jawzi-membongkar-kesesatan-akidah-Tasybih-meluruskan-penyimpangan-dalam-memahami-sifat-sifat-Allah-Nurul-Hikmah-Press-173-Hal
P. 24
16 | Islamic Theology
menyebutkan tentang sifat Allah dan para perawi hadits tersebut
masih diperselisihkan, walaupun kemudian hadits ini dikuatkan
dengan adanya hadits lain (yang semakna dengannya dengan jalur
yang berbeda), hadits ini tetap tidak bisa dijadikan dalil untuk
30
menetapkan sifat Allah”.
(Dua); Masih dalam kitab yang sama al-Hâfizh al-Khathib al-
Baghdadi juga menuliskan kaedah sebagai berikut:
ّ
ّ ُ
ً
٠لاسً نأ :اهضخأ :عىمأب صع صاىؾةنؤ لهخم اربز نىمأتهإا ت٣ثلا يوع اطئو
ُ َ
َّ
ّ
امأو ٫ى٣ٗلا ثاػىجمب صغً امهئ ٕغكلا نلأ ههلاُب ملُٗٞ ٫ى٣ٗلا ثابحىم
ِ
ملُٗٞ ةغجاىختهإا تىؿلا وأ باخ٨لا وه ٠لاسً نأ :يواثلاو ،لاٞ ٫ى٣ٗلا ٝلاسب
ههأ ىلٖ ٫ضخؿِٞ ٕامحةنؤ ٠لاسً نأ :ثلاثلاو ،رىؿيم وأ هل لنأ لا ههأ
ً
٘مججو رىؿيم رحٚ ادُخص نى٩ً نأ ػىجً لا ههلأ ،هل لنأ لا وأ رىؿيم
هٞلاز ىلٖ تمبمأ
”Jika seorang perawi yang tsiqah yang dapat dipercaya meriwayatkan
suatu hadits dengan sanad yang bersambung (muttashil), maka
hadits tersebut dirujuk kepada beberapa perkara berikut ini;
(Pertama): Jika hadits itu menyalahi ketetapan-ketetapan akal sehat
maka nyatalah bahwa hadits tersebut tidak bisa diterima, karena
seluruh ajaran dalam syari„at ini tidak datang kecuali sejalan dengan
ketetapan akal sehat (rasional) dan tidak menyalahinya. (Ke dua): Jika
hadits tersebut menyalahi teks-teks al-Qur„an dan hadits-hadits
mutawâtir maka nyatalah bahwa hadits itu tidak memiliki dasar yang
benar, atau bisa jadi hadits tersebut telah dihapus (mansûkh), karena
tidak dapat diterima adanya sebuah hadits yang tidak mansûkh,
(walaupun hadits tersebut shahih) sementara hadits tersebut
31
menyalahi sesuatu yang telah disepakati oleh umat Islam”.
(Tiga);
Para ulama hadits telah menyebutkan bahwa sebuah
hadits jika menyalahi akal yang sehat, atau menyalahi teks-teks al-
30 al-Faqîh Wa al-Mutafaqqih , h. 132
31
Ibid.