Page 25 - Islamic-theology-Ibnul-Jawzi-membongkar-kesesatan-akidah-Tasybih-meluruskan-penyimpangan-dalam-memahami-sifat-sifat-Allah-Nurul-Hikmah-Press-173-Hal
P. 25

Islamic Theology  | 17


           Qur„an, atau menyalahi hadits mutawâtir dan hadits tersebut tidak
           dapat ditakwil maka dapat dipastikan bahwa hadits tersebut sebagai
           hadits batil. Ketetapan ini telah disebutkan olah para ulama Fiqih dan
           ulama Ushul Fiqih dalam karya-karya mereka, di antaranya seperti
           yang telah disebutkan oleh al-Imâm Tajuddin as-Subki dalam kitab

           Jama„  al-Jawâmi„ dan  oleh  lainnya.    Al-Imâm Abu  Sulaiman  al-


           Khaththabi berkata:
           يف لنأ ىلئ ضىدؿٌ  هخخصب هل ٕىُ٣م ربز وأ باخ٨لاب لائ تٟن لله ذبثج لا
           ٠٢ىخلا بحاىلاٞ ٪لط ٝلاسب امو ،اهتخص ىلٖ ٕىُ٣تهإا تىؿلا يف وأ باخ٨لا
           ٫اى٢أ ًم اهيلٖ ٤ٟختهإا ٫ىنبمأ يواٗمب ٤ُلً ام ىلٖ ٫وأخٍو ٪لط ١لاَئ ًٖ
                                                      هُبكدلا يٟه ًم ملٗلا لهأ

           ”Sifat bagi Allah tidak boleh ditetapkan kecuali dengan al-Qur„an atau
           hadits  yang  telah  dipastikan  ke-shahih-annya,  yang  hadits  ini
           didasarkan kepada kebenaran al-Qur„an atau kepada hadits lain yang
           juga dipastikan kebenarannya. Adapun hadits yang menyalahi hal-
           hal ini maka kewajiban dalam hal ini adalah tawaqquf; artinya tidak
           menjadikannya sebagai dalil dalam penetapanm sifat Allah di atas.
           Lalu kemudian hadits tersebut ditakwil dengan makna yang sesuai
           dengan kaedah-kaedah yang telah disepakati oleh para ulama dalam
                                                       32
           menafikan keserupaan (tasybîh) bagi Allah”.
                  Kemudian al-Imâm   al-Khaththabi berkata:
                          ْ
           ام ثىبثلا يف اهَغق يتلا تىؿلا يف لاو باخ٨لا يف ضحىً مل ٘بانبمأ غ٦ ِ طو
           اهتىبثب  مهىخً ىتخ  تخعاجلا ىنٗم ثاٟهلا يف ضُلا ىنٗم ـِلٞ ،هاىٟنو
           باخ٨لا هب ءاح ام ىلٖ هُٞ مؾالا اى٣لَأ يعغق ٠ُ٢ىج ىه لب ٘بانبمأ ثىبز
                                                        هُبكح لاو ٠ُُ٨ج رحٚ ًم

           “Penyebutan  “al-Ashabi„”  (jari-jari)  tidak  ada  sedikitpun  dalam  al-
           Qur„an, juga tidak ada dalam hadits-hadits dengan kreteria-kreteria
           yang  telah  kami  sebutkan.  Adapun  penyebutan  kata  “al-Yad”  di



                  32
                     al-Asmâ„ Wa ash-Shifât,  h. 335-336
   20   21   22   23   24   25   26   27   28   29   30