Page 23 - Islamic-theology-Ibnul-Jawzi-membongkar-kesesatan-akidah-Tasybih-meluruskan-penyimpangan-dalam-memahami-sifat-sifat-Allah-Nurul-Hikmah-Press-173-Hal
P. 23

Islamic Theology  | 15

                              27
           Qayyim al-Jauziyyah . Dalam karyanya berjudul ar-Radd „Alâ Man
           Qâla Bi Fanâ„ an-Nâr, Ibnu Taimiyah menuliskan: “Di dalam kitab al-
           Musnad karya  ath-Thabarani  disebutkan  bahwa  di  bekas  tempat

           neraka nanti akan tumbuh tumbuhan Jirjir. Dengan demikian maka
           pendapat bahwa neraka akan punah dikuatkan dengan dalil dari al-
           Qur„an,  Sunnah,  dan  perkataan  para  sahabat.  Sementara  mereka
           yang  mengatakan  bahwa  neraka  kekal  tanpa  penghabisan  tidak
                                                          28
           memiliki dalil baik dari al-Qur„an maupun Sunnah” .

                  (Tiga): Al-Imâm al-Hâfizh Abdullah  ibn  Yusuf  al-Harari  (w
           1429  H)  menuliskan  kaedah-kaedah  mendasar  yang  sangat
                                                                     29
           bermanfaat dalam menetapkan sifat-sifat Allah, sebagai berikut :

                         Kaedah yang telah disebutkan oleh al-Imâm
                  (Satu);                                          al-Hâfizh
           al-Faqîh al-Khathib  al-Baghdadi  dalam  kitab  al-Faqîh Wa  al-


           Mutafaqqih, sebagai berikut:
           ثًصاخبمأ ًم رص امب لائ يعباج وأ يباخص ٫ى٣ب لله تٟهلا ذبثج لا :تُهاثلاو
           ٠لخستهإاب لاو ٠ًُٗلاب جخدً لاٞ ،اهتاوع ٤ُزىج ىلٖ ٤ٟختهإا تٖىٞغتهإا تٍىبىلا
                                   َ َ
                                             ٌ
                                      ُ
           غزاء  ثًضخ  ءاحو  هُٞ  ٠لخسم  هُٞ  صاىؾئ  صعو ىل  ىتخ  هجاوع  ٤ُزىج  يف
                                                                      ُ
                                                                         ْ َ
                                                             ُْ َ ُ
                                                            هب جخدً لاٞ هضًٌٗ
                                                                        ِ
           “Ke dua: Bahwa sifat-sifat Allah tidak dapat ditetapkan hanya dengan
           dasar  perkataan  seorang  sahabat,  atau  perkataan  seorang  tabi„in.
           Sifat-sifat Allah hanya dapat ditetapkan dengan hadits-hadits Nabi
           yang marfû„ dan telah disepakati bahwa para perawi hadits-hadits
           tersebut  sebagai  orang-orang  yang  tsiqah  (terpercaya).  Dengan
           demikian penetapan sifat-sifat Allah tidak dapat diambil dari hadits
           yang dla„îf, atau hadits yang para perawinya diperselisihkan; apakah
           mereka orang-orang tsiqah atau tidak?! Bahkan jika ada hadits yang



                  27
                     Lihat Ibnu Qayyim dalam Hâdî al-Arwâh Ilâ Bilâd al-Afrâh, h.
           579 dan h. 582
                  28  Ibnu Taimiyah, Ar-Radd ‘Alâ Man Qâla Bi Fanâ„ an-Nâr, h. 67
                  29
                     Sharih al Bayan Fi Radd 'Ala Man Khalaf al-Qur„an,  h. 57-58
   18   19   20   21   22   23   24   25   26   27   28