Page 22 - Islamic-theology-Ibnul-Jawzi-membongkar-kesesatan-akidah-Tasybih-meluruskan-penyimpangan-dalam-memahami-sifat-sifat-Allah-Nurul-Hikmah-Press-173-Hal
P. 22

14 | Islamic Theology

                                                                         23
                                                         22
                                                         ,
           karyanya berjudul Muwâfaqah Sharîh al-Ma„qûl , as-Sab„îniyyah
           dan lainnya.
                  (4);  Pernyataannya  bahwa  Allah  duduk,  sebagaimana  ia
           sebutkan dengan sangat jelas dalam banyak karyanya, --sekalipun hal
           ini diingkari oleh sebagian pengikutnya ketika mereka tahu bahwa itu
           adalah  keyakinan  yang  sangat  “buruk”--,  seperti  dalam  karyanya
           berjudul  Minhâj  as-Sunnah  an-Nabawiyyah,  secara  dusta  ia
           menuliskan: “Sesungguhnya mayoritas Ahlussunnah berkata bahwa
           Allah turun dari Arsy, namun demikian Arsy tersebut tidak sunyi dari-
                24
           Nya” .
                  Dalam  kitab  Syarh  Hadîts  an-Nuzûl,  Ibnu  Taimiyah  juga
           dengan  dusta  menuliskan:  “Pendapat  ke  tiga,  yang  merupakan
           pendapat benar, yang datang dari pernyataan para ulama Salaf dan
           para Imam terkemuka bahwa Allah berada di atas Arsy. Dan bahwa
           Arsy  tersebut  tidak  sunyi  dari-Nya  ketika  Dia  turun  menuju  langit
                                                                        25
           dunia. Dengan demikian maka ‘asry tidak berada di arah atas-Nya” .
                  Dan  bahkan  lebih  jelas  lagi  ia  sebutkan  dalam  Majmû„
           Fatâwâ. Ibnu Taimiyah telah berbohong besar berkata: “Para ulama
           yang diridlai oleh Allah dan para wali-Nya telah menyatakan bahwa
           Rasulullah; Muhammad didudukan oleh Allah di atas Arsy bersama-
                26
           Nya” .
                  (5);  Pernyataannya  bahwa  Neraka  dan  segala  siksaan
           terhadap orang-orang kafir di dalamnya  memiliki  penghabisan. Ini
           termasuk kontroversi besar yang menggegerkan dari Ibnu Taimiyah.
           Kontroversi  ini  juga  diikuti  oleh  murid  terdekatnya;  yaitu  Ibnu



                  22  Ibnu Taimiyah, Muwâfaqat Sharîh al-Ma„qûl,
                                                           j. 2, h. 29-30
                  23  Ibnu Taimiyah, As-Sab„iniyyah,  h. 178
                  24  Ibnu Taimiyah, Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyyah,  j. 1, h. 262
                  25  Ibnu Taimiyah, Syarh Hadits an-Nuzul,  h. 66
                  26
                     Ibnu Taimiyah, Majmû„ Fatâwâ,  j. 4, h. 374
   17   18   19   20   21   22   23   24   25   26   27