Page 28 - Pendidikan Pancasila SMP Kelas VII
P. 28
? Wawasan Kewarganegaraan
Sekilas Mengenai Chuo Sangi In
Pada 5 September 1943, Kumakichi Harada, Panglima Tertinggi (Saiko Shikikan) Jepang, mengeluarkan Osamu Seirei
(semacam undang-undang) Nomor 36 dan 37 mengenai pembentukan Chuo Sangi In (Dewan Pertimbangan Pusat)
dan Chuo Sangi Kai (Dewan Pertimbangan Karesidenan). Pembentukan ini juga diiringi dengan kewajiban melibatkan
tokoh-tokoh Indonesia sebagai penasihat dan pelaksana ke dalam organisasi pemerintah secara resmi. Chuo Sangi In
bertugas mengajukan usul kepada pemerintah serta menjawab pertanyaan pemerintah mengenai soal-soal politik.
Chuo Sangi In juga berwenang menyarankan tindakan yang perlu dilakukan oleh Pemerintah Militer.
Secara umum, badan ini mirip dengan Volksraad (Dewan Perwakilan Rakyat) pada masa pendudukan Belanda se-
belumnya. Hanya saja, Chuo Sangi In tidak berwenang menentukan pemerintahan Indonesia secara utuh. Pada waktu
itu penentuan dan kendali utama pemerintahan Indonesia harus atas persetujuan pemerintah pusat di Tokyo.
Pada sidang pertama Chuo Sangi In pada 17 Oktober 1943, Ir. Sukarno dilantik sebagai ketua dengan didampingi
dua orang wakil ketua, yaitu R.M.A.A. Kusumo Utoyo dan Dr. Buntaran Martoatmodjo. Anggota Chuo Sangi In terdiri
dari 23 orang yang diangkat Saiko Shikikan (panglima tertinggi), dua orang dipilih Chuo Sangi Kai dan Tokubetsu
Shi Sangi Kai (Dewan Pertimbangan Kotapraja), dan dua orang diusulkan oleh kooti dan koci (Solo dan Yogyakarta).
Pada tanggal 10 September 1944 anggota Chuo Sangi In ditambah dari 23 orang ditambah menjadi 28 orang. Pada
tanggal 7 November 1944 anggota keseluruhan ditambah lagi menjadi 60 orang. Beberapa anggota Chuo Sangi In,
antara lain Ir. Sukarno, R.M.A.A. Kusumo Utoyo, Buntaran Martoatmojo, R. Abikusno Cokrosuyoso, R. Margono
Djojohadkusumo, Mr. R. W. Sumanang, Mr. R. Sujono, R. Gatot Mangkuprojo, Mohammad Yamin, Mr. J. Latuhar-
hary, Abdurrahman Baswedan, dan seorang berkebangsaan China Yap Tjwan Bing.
Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu tanpa syarat, tidak ada usulan dari Saiko Shikikan untuk kepentingan
Perang Pasifik. Atas dasar itu maka Chuo Sangi In dibubarkan tanpa ada pernyataan resmi.
Jejak sejarah Gedung Chuo Sangi In dapat dilihat sampai saat ini. Gedung Chuo Sangi In di Jakarta sebelumnya
merupakan gedung Volksraad pada tahun 1925. Saat ini gedung tersebut lebih dikenal sebagai Gedung Pancasila yang
terletak di kompleks Kementerian Luar Negeri dan merupakan tempat bersejarah yang menjadi saksi lahirnya Pancasila.
Sumber: https://bit.ly/3E904Fl, https://bit.ly/3lR1RZd, https://bit.ly/3DOapWO
b. Pada 22 Juni 1945, Ir. Sukarno mengambil inisiatif informal untuk
membentuk panitia kecil dengan jumlah anggota sebanyak sembilan
orang tokoh. Sembilan orang tokoh tersebut adalah Ir. Sukarno (sebagai
ketua), Mohammad Hatta, Mohammad Yamin, A.A. Maramis, Ahmad
Subardjo, K.H. Wachid Hasjim, Abdul Kahar Muzakir, H. Agus Salim,
dan R. Abikusno Tjokrosujoso. Panitia kecil ini kemudian dikenal
dengan Panitia Sembilan. Tugas Panitia Sembilan adalah merumuskan
Pancasila sebagai dasar negara dalam suatu rancangan pembukaan
hukum dasar (preambule konstitusi) yang juga dipersiapkan sebagai
rancangan teks proklamasi.
Tugas 1.7
Carilah riwayat hidup anggota Panitia Sembilan, yaitu Ir. Sukarno, Mohammad Hatta, Mohammad Yamin, A.A. Maramis,
Ahmad Subardjo K.H. Wachid Hasjim, K.H. Kahar Muzakir, H. Agus Salim, dan R. Abikusno Tjokrosujoso. Tuliskan hasilnya
di buku tugas kalian dan kumpulkan hasilnya kepada guru.
14 Pendidikan Pancasila SMP/MTs Kelas VII