Page 28 - Hukum Perbankan Indonesia
P. 28
yang diatur dengan ketat oleh pemerintah. Bank-bank pemerintah
terus berkembang, menggeser peran bankir-bankir individu yang
akhirnya bergabung membentuk bank-bank besar.
Periode ini juga ditandai dengan pengembangan fasilitas khusus yang
dirancang untuk memenuhi kebutuhan sektor pertanian dan industri,
yang menyebabkan berdirinya banyak bank koperasi. Di Jerman, bank
koperasi seperti volksbanken (bank rakyat) dan landschaften (bank
tanah) menjadi model bagi negara-negara lain—termasuk Prancis
17
dan Amerika Serikat. Sebagai contoh, Amerika Serikat mengesahkan
Federal Farm Loan Act pada tahun 1916 setelah mengkaji sistem kredit
tanah di Jerman secara menyeluruh. Banyak lembaga yang didirikan
berdasarkan undang-undang ini mengadopsi konsep serupa dengan
yang ada di Jerman.
Menjelang akhir abad ke-19, perbankan internasional semakin
terstruktur dan sukses, terutama karena kesatuan sistem perbankan yang
terintegrasi melalui mekanisme standar emas. Namun, ketika Perang
Dunia I pecah pada tahun 1914, perkembangan perbankan terhenti
sementara. Pascaperang, negara-negara berusaha memulihkan sistem
perbankan internasional dengan kembali ke standar emas. Meskipun
demikian, upaya untuk memperkuat kerja sama internasional dalam
bidang perbankan terhambat karena masing-masing negara lebih
fokus pada kepentingan ekonomi domestik mereka.
Beberapa negara kembali ke standar emas. Seperti Amerika Serikat
yang beralih pada tahun 1919, disusul oleh Inggris serta Prancis pada
tahun 1925 dan 1926. Pada akhir tahun 1929, lebih dari 30 negara
18
besar telah mengadopsi kembali standar emas. Namun, terlepas
dari upaya ini, sistem perbankan masih menghadapi tantangan. Hal
tersebut terbukti dari jatuhnya pasar saham di Amerika Serikat pada
tahun 1929, sehingga memicu krisis ekonomi global yang dikenal
sebagai Depresi Besar (The Great Depression).
17 Ibid., hlm. 146.
18 Ibid., hlm. 147.
12 Hukum Perbankan Indonesia dan Respons …

