Page 271 - Buku Menyikapi Wajah Minangkabau
P. 271
perburuan merupakan medan bergengsi. Badunia kata orang
awak.
Seiring dengan perkembangan zaman, dibanding dengan
era pertengahan abad ke-20 yang lalu, nuansa berburu babi
jauh berbeda dengan sekarang. Dulu tujuannya bukan hanya
sekedar olahraga, bukan hobby atau membasmi hama semata,
tapi jauh lebih mulia dari semua itu. Yaitu sebagai sarana
silaturahmi ke masyarakatan bernagari. Selain dari ajang pe-
mersatu juga dimaksudkan sebagai balai riset meninjau dan
membanding perkembangan usaha tani, peternakan dan
usaha-usaha lainnya untuk diterapkan di nagari masing-
masing.
Pada arena perburuan ada aturan-aturan tak tertulis yang
wajib ditaati, sehingga hampir-hampir “diadatkan” oleh
masyarakat. Dia punya semboyan: Anjiang nan saikua, Tali nan
sahalai, Tombak nan sabilah dan Rimbo nan satumpak adalah
milik bersama. Antara lain aturan-aturan dimaksud adalah:
1. Bagi kampung penyelenggara buru, kaum lelaki yang
tak ikut berburu, hari itu harus libur kerja rutin sebagai
partisipasi selaku tuan rumah. Kaum perempuannya
menyediakan air minum dan jajanan ringan di halaman rumah.
2. Tamu yang datang dari luar disongsong dengan Carano
sebagai lambang kehormatan.
3. Para tokoh masyarakat yang hadir beserta perwakilan
Muncak Buru disambut dan didudukkan dibangku VIP.
4. Di acara penyambutan diadakan Pidato Ada Selamat
Datang antara Tamu dan Tuan rumah.
5. Di kawasan perburuan, siapa saja bebas mengambil
buah-buahan sekedar dimakan ditempat, bukan untuk dibawa
pulang.
242
Yus Dt. Parpatih