Page 59 - Linguistik Forensik
P. 59
berkolaborasi dengan pakar ilmu dibidang linguistik, demikianlah
cabang ilmu yang dihasilkan ialah linguistik forensik.
Dalam perkembangan awalnya, linguistik forensik tradisional
dimaknai sebagai kerja analisis bukti kebahasaan yang dianalog dengan
sidik jari. Sidik jari dilakukan untuk menganalisis pelaku tindak
kejahatan, maka linguistik forensik pun dimaknai sebagai upaya
memanfaatkan analisis linguistik untuk mengeksplanasi profil pelaku
tindak kejahatan. Contoh penggunaan analisis bahasa untuk
mengeksplorasi profil pelaku tindak kejahatan, yaitu pada kasus
penculikan dan penyiksaan yang pelaku tindak kejahatan dapat
teridentifikasi melalui perbandingan rekaman percakapan yang
dilakukan tersangka dengan rekaman wawancara yang dilakukan polisi.
Kesaksian kasus ini diberikan oleh Uter, Abouakkour, Robert, dan
Williams pada tahun 2014.
Mengingat luas dan spesifiknya kajian bahasa dalam linguistik
serta potensi analisis bukti bahasa untuk menguak aspek-aspek
penegakan hukum, maka sudah sepantasnya terdapat profesi pengacara
kebahasaan, yang menerapkan sub bidang linguistik terapan yang
disebut linguistik forensik tersebut (Mahsun, 2018:32).
5.2 Bahasa Hukum; Sifat Bahasa Hukum
Bahasa dapat diartikan sebagai serangkaian simbol yang dapat
digunakan untuk mengkomunikasikan gagasan, pendapat, dan perasaan
seseorang kepada orang lain. Untuk dapat mengkomunikasikan ide,
pendapat atau perasaan, orang harus berbicara dalam bahasa yang sama.
Dengan memperhatikan konsep hukum yang khas dengan sendirinya
bahasa dalam hukum mempunyai kekhasan. Kekhasan bahasa dalam
51