Page 60 - Linguistik Forensik
P. 60
hukum terletak dalam fungsi yang normatif. Dalam bahasan normatif
dirumuskan norma-norma yang berisi: perintah, larangan, izin, dan
dispensasi.
Ada beberapa faktor yang perlu dicermati sebelum suatu hukum
akan dilahirkan, yaitu:
1. Para pembentuk hukum harus menyimak filosofi di balik suatu
konsep hukum. Istilah strafbaarfeit yang diterjemahkan
menjadi peristiwa pidana tentu berangkat dari filosofi yang berbeda
dengan perbuatan pidana dan tindak pidana. Dalam konteks ini juga
termasuk penelaahan atas latar belakang keluarga sistem hukum.
Konsep ‘mortgage’ dalam sistem Anglo Sakson tidak bisa serta merta
diidentikkan dengan konsep ‘hipotek’ yang ada dalam sistem hukum
Indonesia.
2. Para pembentuk hukum juga harus menyimak kesesuaian istilah itu
dengan kelaziman yang sudah diterima lama dalam doktrin hukum.
Misalnya, kata ‘oneerlijke concurrentie’ atau ‘unfair competition’ sudah
cukup lama dimaknai dalam buku-buku teks hukum berbahasa
Indonesia menjadi ‘persaingan curang’. Entah mengapa, tiba-tiba
dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 muncul istilah
baru: ‘persaingan tidak sehat’.
3. Pembentuk hukum perlu mempertimbangkan faktor efisiensi
berbahasa sebagaimana diajarkan dalam teknik perundang-
undangan. Kendati hukum dalam satu sisi adalah produk politik,
tetapi terkadang pertimbangan politik yang terlalu menonjol dapat
menyebabkan bahasa hukum kita menjadi tidak tampil elegan di
dalam perbendaharaan hukum positif kita. Sebagai contoh kasus,
pernah terjadi dinamika politik yang membuat pembentuk
52