Page 154 - A Man Called Ove
P. 154

Fredrik Backman

                  Dia membenci kaum lelaki berkemeja putih. Dia tidak
              bisa mengingat pernah membenci seseorang sebelumnya.
              Namun kini rasanya seakan ada bola api di dalam dada.
              Orangtua Ove telah membeli rumah ini. Ove telah tumbuh
              besar di sini. Belajar berjalan. Ayahnya telah mengajarinya
              segala yang perlu diketahui mengenai mesin Saab di sini.

                  Dan, setelah semuanya itu, seseorang dari pihak
              berwenang kota memutuskan hendak membangun sesuatu
              yang lain di sini. Seorang lelaki berwajah bulat menjual
              asuransi yang bukan asuransi. Lelaki berkemeja putih
              mencegah Ove yang hendak memadamkan api. Kini, dua
              lelaki berkemeja putih lain berdiri di sini, bicara mengenai
              “harga pasar”.
                  Namun sesungguhnya Ove tidak punya pilihan. Dia bisa
              saja berdiri di sana hingga matahari terbit sepenuhnya, tapi
              dia tidak bisa mengubah situasi itu.

                  Jadi dia menandatangani dokumen mereka sambil
              mengepalkan tangan di dalam saku.
                  Ove meninggalkan petak tanah tempat rumah orangtuanya
              pernah berdiri, dan tidak pernah menoleh ke belakang. Dia
              menyewa kamar kecil dari seorang perempuan tua di kota.
              Duduk dan menatap dinding dengan murung sepanjang hari.
              Pada malam hari dia pergi bekerja. Membersihkan gerbong-
              gerbong kereta api. Paginya, dia dan para pekerja lain diminta
              tidak pergi ke kamar ganti mereka seperti biasanya. Mereka
              harus kembali ke kantor pusat untuk mengambil setelan
              pakaian kerja baru.





                                        149
   149   150   151   152   153   154   155   156   157   158   159