Page 179 - A Man Called Ove
P. 179

A Man Called Ove

            menuju stasiun perempuan itu. Lalu Ove menaiki kereta
            api selama setengah jam lagi ke stasiunnya sendiri. Dia
            mengulangi kesemuanya itu keesokan harinya. Dan lusanya.

                Pada hari berikutnya, lelaki dari meja kasir di stasiun
            kereta api menegur dan menjelaskan bahwa Ove tidak boleh
            tidur di sana seperti pemalas. Jelas dia bisa memahami
            itu, bukan? Ove memahami maksud lelaki itu, tapi juga
            menjelaskan adanya seorang perempuan yang sedang
            dipertaruhkan di sini. Ketika mendengar ini, lelaki dari meja
            tiket hanya sedikit mengangguk. Sejak saat itu Ove dibiarkan
            tidur di ruang penitipan bagasi. Bahkan lelaki di meja tiket
            stasiun kereta api pun pernah jatuh cinta.
                Ove melakukan hal sama setiap hari, selama tiga bulan.
            Akhirnya perempuan itu merasa jemu karena Ove tidak
            pernah mengundangnya untuk pergi makan malam. Jadi,
            dia mengundang dirinya sendiri.

                “Aku akan menunggu di sini, besok malam, pukul
            delapan. Aku ingin kau mengenakan setelan dan aku ingin
            kau mengundangku untuk pergi makan malam,” katanya
            ringkas ketika melangkah turun dari kereta api, pada suatu
            Jumat malam.
                Dan begitulah.
                Ove tidak pernah ditanya bagaimana hidupnya sebelum
            berjumpa dengan perempuan itu. Namun jika ada yang
            bertanya, dia akan menjawab bahwa dia tidak hidup.

                Pada Sabtu malam, Ove mengenakan setelan cokelat lama
            milik ayahnya. Pakaian itu ketat di sekitar bahunya. Lalu dia
            menyantap dua sosis dan tujuh kentang, yang disiapkannya


                                       174
   174   175   176   177   178   179   180   181   182   183   184