Page 26 - A Man Called Ove
P. 26
Fredrik Backman
delapan puluh sentimeter; darah pasti tidak bisa mengalir
sejauh itu hingga ke otak.
“Dan, siapa kau?” tanya Ove.
“Aku pengemudinya,” jawab Si Kerempeng dengan
ramah.
“Oh, benarkah? Kelihatannya bukan!” bentak si perem-
puan hamil yang mungkin lebih pendek lima puluh sentimeter
dibandingkan lelaki itu. Dia berupaya menampar lengan Si
Kerempeng dengan kedua tangannya.
“Dan ini siapa?” tanya Ove sambil menatapnya.
“Ini istriku.” Si Kerempeng tersenyum.
“Jangan begitu yakin akan tetap begitu,” sambar
perempuan itu dengan perut hamilnya yang melambung-
lambung ke atas ke bawah.
“Itu tidak semudah keliha—” Si Kerempeng mencoba
bicara, tapi langsung dipotong.
“Kubilang KANAN! Tapi kau terus mundur ke KIRI! Kau
tidak mendengarkan! Kau TIDAK PERNAH mendengarkan!”
Lalu, perempuan itu asyik mengoceh selama setengah
menit, yang hanya bisa diasumsikan Ove sebagai peragaan
kosakata rumit dalam makian bahasa Arab.
Si suami hanya mengangguk kepadanya dengan senyum
teramat sangat damai. Jenis senyuman yang membuat orang
awam ingin menampar wajah pendeta Buddha, pikir Ove.
“Oh, ayolah. Maafkan aku,” kata si suami dengan ceria,
sambil mengeluarkan wadah tembakau kunyah dari saku dan
21