Page 27 - A Man Called Ove
P. 27
A Man Called Ove
memadatkan tembakaunya menjadi bola seukuran kacang
walnut. “Itu hanya kecelakaan kecil. Akan kita bereskan!”
Ove memandang si Kerempeng, seakan lelaki itu baru
saja berjongkok di atas kap mobil Ove dan meninggalkan
tahi di sana.
“Bereskan? Kau berada di petak bungaku!”
Si Kerempeng tercenung memandang roda-roda
karavannya.
“Itu tidak bisa dibilang petak bunga, kan?” Dia tersenyum
tanpa gentar, lalu membetulkan letak tembakaunya dengan
ujung lidah. “Aaah, ayolah, itu hanya tanah,” desaknya, seakan
Ove sedang bergurau dengannya.
Kening Ove memampat menjadi satu kerutan besar yang
mengancam.
“Itu. Petak. Bunga.”
Si Kerempeng menggaruk-garuk kepala, seakan ada
tembakau yang menyangkut di rambut kusutnya.
“Tapi, kau tidak menumbuhkan apa-apa di dalamnya—”
“Peduli setan dengan apa yang kulakukan di petak
bungaku sendiri!”
Si Kerempeng mengangguk cepat, jelas ingin menghindari
provokasi lebih lanjut dari lelaki tak dikenal ini. Dia berpaling
kepada istrinya, seakan mengharapkan bantuan. Perempuan
itu sama sekali tidak terlihat hendak membantu. Si Kerempeng
kembali memandang Ove.
“Hamil. Tahu sendirilah. Hormon-hormon dan sebagainya
…,” katanya sambil berupaya tersenyum lebar.
22