Page 400 - Jurnal Penelitian MTsN 6 Jakarta
P. 400
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Pembahsan
Kehamilan merupakan kondisi fisiologis yang menyebabkan terjadinya
berbagai perubahan sistemik dalam tubuh wanita. Perubahan ini mencakup
adaptasi pada sistem kardiovaskular, respirasi, endokrin, dan muskuloskeletal,
yang semuanya berfungsi untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan
janin sekaligus menjaga keseimbangan metabolik ibu.
Kehamilan menimbulkan berbagai perubahan fisiologis yang kompleks,
terutama pada sistem kardiovaskular dan pernapasan, sebagai bentuk
adaptasi terhadap peningkatan kebutuhan metabolik tubuh. Menurut
Cunningham et al. (2022), volume darah ibu hamil dapat meningkat hingga
50%, diikuti dengan peningkatan frekuensi denyut jantung sekitar 10–20 kali
per menit sebagai kompensasi terhadap kebutuhan oksigen janin. Kondisi ini
menyebabkan sistem sirkulasi ibu bekerja lebih aktif, namun tetap berada
dalam rentang fisiologis yang normal.
Aktivitas fisik ringan dapat membantu menstabilkan perubahan fisiologis
tersebut. Sebagaimana dijelaskan oleh WHO (2020), aktivitas fisik yang teratur
pada ibu hamil mampu meningkatkan efisiensi kerja jantung dan
memperlancar aliran darah ke seluruh tubuh. Dalam konteks ini, salat dapat
dikategorikan sebagai bentuk aktivitas fisik ringan yang melibatkan gerakan
berulang dan teratur — seperti berdiri, rukuk, sujud, dan duduk — yang
memberikan stimulasi pada otot dan sistem peredaran darah tanpa
menimbulkan kelelahan berlebih.
Setiap gerakan salat memiliki efek fisiologis yang spesifik. Gerakan rukuk,
misalnya, dapat membantu meningkatkan aliran balik vena ke jantung karena
posisi tubuh yang mencondong ke depan, sementara sujud meningkatkan
perfusi darah ke otak. Nasrullah (2021) menjelaskan bahwa posisi sujud dapat
meningkatkan sirkulasi otak hingga 10–15%, yang berdampak pada perbaikan
distribusi oksigen di jaringan kepala dan leher.
Selain itu, Sari & Rahma (2022) menemukan bahwa ibu hamil yang
melakukan salat secara rutin menunjukkan tekanan darah yang lebih stabil
dibandingkan yang tidak beribadah secara teratur. Hal ini menunjukkan bahwa
salat tidak hanya memberikan efek spiritual, tetapi juga efek fisiologis berupa
relaksasi sistem saraf dan penurunan stres.
Pemantauan perubahan fisiologis selama salat dapat dilakukan secara
ilmiah menggunakan teknologi digital. Menurut Kim et al. (2023), perangkat
smartwatch dengan sensor Photoplethysmography (PPG) dan pulse oximeter
terbukti mampu mengukur detak jantung dan kadar oksigen dalam darah
secara akurat hingga 95% dibandingkan alat medis standar. Oleh karena itu,
penggunaan smartwatch dalam penelitian ini memungkinkan peneliti menilai
perubahan fisiologis ibu hamil secara real time, non-invasif, dan objektif tanpa
mengganggu pelaksanaan ibadah.
15

