Page 433 - Jurnal Penelitian MTsN 6 Jakarta
P. 433
2. Perhitungan Komponen Thermic Effect of Food (TEF)
Thermic Effect of Food (TEF) adalah peningkatan pengeluaran energi yang
terjadi akibat proses pencernaan, penyerapan, metabolisme, dan penyimpanan zat
gizi dari makanan. Menurut McArdle dan Katch (2015) serta Guyton dan Hall
(2011), TEF biasanya menyumbang sekitar 5–15% dari total energi yang
dikonsumsi per hari, dengan variasi bergantung pada komposisi makronutrien.
Hasil perhitungan Basal Metabolic Rate (BMR) dan parameter statistik dari 14
responden dapat dilihat pada tabel 3 dan 4 dibawah ini.
Tabel 3. Perhitungan Thermic Effect of Food (TEF)
Kalori Aktivitas
No. Nama Atlet BMR TEF
MET Harian
1 Muhamad Harith Nasyat 44 1.465 500 257
2 Muhammad Islah Farid 56 1.668 500 293
3 Abizar Putra Listyanto 49 1.538 500 271
4 Ahmad Raihan 51 1.595 500 279
5 Narendra Dinesh Pratama 39 1.405 500 244
6 Faaza Fauzan A’ziiza 45 1.501 500 261
7 Hirzam Syabil 53 1.591 500 281
8 Icco Novan Ferdinand 42 1.461 500 253
9 Abdul Hafizh 42 1.466 500 253
10 Al Raffa Muhammad 46 1.516 500 264
11 Galuh Permata Priyadi 40 1.446 500 249
12 Muhammad Syekhan Mubarok 50 1.579 500 276
13 Muhammad Luthfi Haekal 54 1.616 500 285
14 Muhammad Jidar Jayadi 42 1.448 500 251
Hasil perhitungan Thermic Effect of Food (TEF) pada atlet futsal remaja
dalam penelitian ini berada pada rentang 244–293 kkal/hari, dengan rata-rata sekitar
265 kkal/hari. Temuan ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa TEF
menyumbang kurang lebih 10% dari total kebutuhan energi harian (McArdle et al.
2015; WHO/FAO/UNU, 2004). Atlet dengan TEF tertinggi adalah Muhammad
Islah Farid (67 kg, TB 170 cm) yang mencapai 293 kkal/hari, dipengaruhi oleh
tingginya BMR (1.668 kkal/hari) serta massa otot dan berat badan yang lebih besar,
sehingga meningkatkan beban metabolik tubuh. Sebaliknya, TEF terendah
diperoleh oleh Narendra Dinesh Pratama (47 kg, TB 160 cm) yaitu sebesar 244
16

