Page 18 - USHUL FIKIH_INDONESIA_MAPK_KELAS XII_KSKK
P. 18
menunjukkan bahwa perbuatan itu adalah baik; dan setiap perbuatan yang dilarang Allah
untuk melakukannya menunjukkan bahwa perbuatan itu adalah buruk.
Dengan demikian, baik atau buruknya suatu perbuatan hanya ditentukan oleh
Allah dengan wahyu-Nya, dan akal manusia sama sekali tidak dapat mengenalnya. Bila
akal manusia tidak dapat mengenal baik atau buruknya suatu perbuatan, maka dengan
sendirinya akal manusia juga tidak dapat mendorong manusia untuk berbuat atau tidak
berbuat. Wahyu Allah-lah yang dapat menetapkan baik atau buruknya suatu perbuatan
dan hanya wahyu pula yang dapat menyuruh atau melarang manusia, dalam arti taklif,
dan hanya ditetapkan oleh Allah melalui Rasul-Nya.
Kedua, kelompok Mu’tazilah yang berpendapat bahwa sesuatu perbuatan dan
materi perbuatan itu sendiri mengandung nilai baik atau buruk. Akal manusia dapat
mengetahui perbuatan itu baik atau buruk. Suatu perbuatan akan dinilai baik oleh akal
bila perbuatan itu disenangi oleh manusia dan bermanfaat bagi manusia, baik langsung
dirasakannya pada waktu itu atau di kemudian hari. Umpamanya makan bagi orang yang
sedang lapar adalah suatu perbuatan baik karena dapat dirasakan manfaatnya waktu itu
juga. Makan tablet kina meskipun tidak disenangi pada waktu memakannya, namun bagi
orang yang demam malaria dianggapnya baik karena manfaatnya dapat dirasakan
kemudian. Minum racun dinilai oleh akal manusia sebagai perbuatan buruk karena
kemudaratan yang ditimbulkan oleh perbuatan itu dapat dirasakan pada waktu itu juga.
Minum teh manis bagi orang yang berpenyakit gula adalah perbuatan buruk karena
meskipun perbuatan itu disenangi pada waktu melakukannya, namun akibat yang
ditimbulkannya adalah buruk bagi kesehatannya.
Bila akal dapat mengetahui baik atau buruknya suatu perbuatan, maka sebagai
kelanjutannya akal memahami pula bahwa suatu perbuatan yang baik harus dilakukan;
dan suatu perbuatan yang buruk harus ditinggalkan. Alasannya ialah bahwa akal manusia
dapat memahami berdasarkan keyakinan nya akan keadilan Allah, bahwa Allah tidak
mungkin membiarkan suatu perbuatan buruk dilakukan oleh manusia dan tidak mungkin
mencegah manusia melakukan suatu perbuatan baik. Dengan demikian, keharusan
berbuat atau tidak berbuat sudah ada meskipun wahyu belum diturunkan oleh Allah. Di
antara fungsi wahyu yang datang kemudian adalah untuk mengukuhkan sesuatu yang
telah diketahui dan ditetapkan oleh akal. Kelanjutan dari pendapat ini ialah adanya taklif
sebelum datangnya Rasul. Seorang manusia telah dianggap berdosa karena melakukan
perbuatan buruk atau berpahala jika melakukan perbuatan baik sebelum wahyu
diturunkan Allah kepada Rasul.
USHUL FIKIH - KELAS XII 9

