Page 134 - ORASI ILMIAH PROF. DR. POPPY ANDI LOLO SH. MH.
P. 134

133







                        pidana  yang  ditetapkan  sebagai  kejahatan.  Tujuan  utama  kriminalisasi


                        perbuatan  pidana  dimaksud  untuk  memberikan  perlindungan  hukum

                        terhadap  harkat  dan  martabat  manusia.  Atas  dasar  itu,  maka  pemerintah


                        Indonesia  mengundangkan  Undang-Undang  Nomor  21  Tahun  2007.  Lahir

                        beberapa  ketentuan  perundang-undangan  baik  secara  nasional  dan  di


                        beberapa Propinsi (sebagaimana Tabel 2) menunjukkan bahwa kebijakan

                        kriminal (criminal policy) Indonesia tentang perdagangan orang sangat maju


                        dan  telah  sejalan  dengan  konvensi  internasional.  Beberapa  ketentuan

                        perundang-undangan  dimaksud  antara  lain,  Undang-Undang  Nomor  23


                        Tahun  2002  tentang  Perlindungan  Anak,  Keputusan  Presiden  (Keppres)

                        Nomor 59 Tahun 2002 tentang Rencana Aksi Nasional (RAN) Penghapusan

                        Bentuk-Bentuk  Pekerjaan  Terburuk  Untuk  Anak,  Keppres  Nomor  87  Tahun


                        2002  tentang  Rencana  Aksi  Nasional  (RAN)  Penghapusan  Eksploitasi

                        Seksual Komersil Anak, dan Keppres Nomor 88 Tahun 2002 tentang Rencana


                        Aksi Nasional Penghapusan Perdagangan Perempuan dan Anak, serta aksi-

                        aksi  nyata  dari  sektor-sektor  terkait,  Lembaga  Swadaya  Masyarakat  (LSM),


                        organisasi kemasyarakatan, kepolisian, dan lain-lain, maka pada akhir bulan

                        Juni 2003 Indonesia telah naik ke peringkat kedua, satu tingkat lebih baik, ini


                        awal yang baik dari sebuah komitmen bangsa Indonesia.

                               Dalam  kaitan  dengan  analisis  kriminalisasi  perbuatan  pidana  dalam


                        ketentuan  perundang-undangan  tersebut,  maka  secara  teoretik  akan

                        diarahkan pada analisis unsur-unsur delik sebagai unsur utama menemukan

                        apakah kriminalisasi kejahatan perdagangan orang dapat menjadi landasan
   129   130   131   132   133   134   135   136   137   138   139