Page 132 - EBOOK_Persiapan Generasi Muda Pertanian Pedesaan Menuju Indonesia Sebagai Lumbung Pangan Dunia
P. 132

SEMINAR NASIONAL 2017
               Malang 10 April 2017

                      Untuk  mencapai  hasil  pertumbuhan  yang  makimal,  selain  ditentukan  oleh  faktor
               genetik,  juga  dipengaruhi  seberapa  baik  tanaman  mampu  beradaptasi  dengan  kondisi
               lingkungan dimana tanaman tumbuh. ( Doorenbos dan Kassam, 1979). Umumnya tanaman
               bawang  merah  ditanam  di  musim  kemarau.  Namun  di  beberapa  sentra  produksi  bawang
               merah,  penanaman  bawang  merah  tidak  mengenal  musim  dan  dapat  ditanam  kapan  saja
               dengan  system  budidaya  yang  intensif.  Masalah  utama  usahatani  bawang  merah  bila
               penanaman di luar musim adalah tingginya resiko kegagalan panen ( Baswasiarti et al.,1997).
               Selain  memperhatikan  pemilihan  waktu  penanaman,  budidaya  yang  intensif  juga
               memperhatikan  pemilihan  varietas  tanaman  yang  akan  ditanam  memiliki  karakteristik
               agroekologi tertentu, misalnya pada tanaman bawang merah varietas super  Philip dan Batu
               Ijo  yang dapat ditanam  pada dataran rendah hingga tinggi, selama ini sering ditanam pada
               musim kemarau. Sehingga perlu diketauhi, apabila penanamannya dilakukan di luar musim
               apakah  akan  mempengaruhi  pertumbuhan  dan  produksinya.  Begitu  pula  pada  varietas  lain
               dari  tanaman  bawang  merah  yaitu  bauji,  yang  selama  ini  lebih  dikenal  sebagai  varietas
               dataran  rendah  di  daerah  asalnya  Nganjuk,  menarik  untuk  diketauhi  pertumbuhan  dan
               produksinya jika ditanam di daerah Malang dimana kondisi agroekologi berbeda. Tujuan dari
               peneltian ini adalah untuk mengetahui pengaruh beberapa varietas dan pemupukan terhadap
               hasil bawang merah pada musim hujan tahun 2016.


               2.  Tinjauan Pustaka

               Budidaya

               Pengolahan Tanah
                      Pengolahan  tanah  dilakukan  pada  saat  tidak  hujan  2-4  minggu  sebelum  tanam.
               Tujuannya untuk menggemburkan tanah, memperbaiki drainase dan aerasi tanah, meratakan
               permukaan  tanah,  dan  membasmi  sisa-sisa  gulma.  Pengolahan  tanah  diawali  dengan
               pembuatan  parit  sebagai  jarak  antar  bedengan  dengan  lebar  40-50  cm,  kemudian  tanah
               dicangkul sedalam 40 cm. Budidaya dilakukan pada bedengan yang telah disiapkan dengan
               ukuran yang dikehendaki serta arah bedengan yang benar. Ukuran lebar bedengan 100-200
               cm dengan ketinggian 30-50 cm, dan panjangnya sesuai kebutuhan.

               Penyiapan jarak Tanam
                      Pengaturan  jarak  tanam  pada  dasarnya  bertujuan  memberi  kemungkinan  tanaman
               untuk  tumbuh  dengan  baik  tanpa  mengalami  persaingan  dalam  hal  pengambilan  air,  unsur
               hara  dan  cahaya  matahari,  serta  memudahkan  pemeliharaan  tanaman.  Jarak  tanam  yang
               kurang tepat dapat merangsang pertumbuhan gulma, sehingga dapat menurunkan hasil.

               Penyiapan benih atau bibit
                      Penggunaan benih bermutu merupakan syarat mutlak dalam budidaya bawang merah.
               Varietas  bawang  merah  yang  dapat  digunakan  adalah  Bima,  Brebes,  ampenan,  Medan,
               Keling,  Maja  Cipanas,  Sumenep,  Kuning,  Timor,  Lampung,  Banteng  dan  varietas  lokal
               lainnya.  Perbedaan  produktivitas  dari  setiap  varietas/kultivar  tidak  hanya  bergantung  pada
               sifatnya, namun juga banyak dipengaruhi oleh situasi dan kondisi daerah. Iklim, pemupukan,
               pengairan, dan tanah merupakan faktor penentu  dalam produktivitas maupun kualitas umbi
               bawang  merah.Tanaman  biasanya  dipanen  cukup  tua  antara  60-80  hari,  telah  diseleksi  di
               lapangan dan di tempat penyimpanan. Umbi yang akan digunakan untuk bibit harus berasal
               dari tanaman yang sudah cukup tua umurnya, yaitu sekitar 70-80 hari setelah tanam. Umbi
               untuk  bibit  sebaiknya  berukuran  sedang  (5-10  g).  penampilan  umbi  bibit  harus  segar  dan
               sehat, bernas (padat, tidak keriput), dan warnanya cerah (tidak kusam). Umbi bibit sudah siap



                              “Penyiapan Generasi Muda Pertanian Perdesaan Menuju Indonesia Sebagai Lumbung Pangan Dunia”     121
   127   128   129   130   131   132   133   134   135   136   137