Page 310 - EBOOK_Persiapan Generasi Muda Pertanian Pedesaan Menuju Indonesia Sebagai Lumbung Pangan Dunia
P. 310

SEMINAR NASIONAL 2017
               Malang 10 April 2017

               2.  Tinjauan Pustaka

               Ketahanan Pangan
                      Undang-Undang  Pangan  No.  7  Tahun  1996  memberikan  definisi  ketahanan  pangan
               sebagai  kondisi  terpenuhinya  kebutuhan  pangan  bagi  rumah  tangga  yang  tercermin  dari
               tersedianya  pangan  secara  cukup,  baik  dari  jumlah  maupun  mutunya,  aman,  merata  dan
               terjangkau.  Sementara  USAID  (1992)  mendefinisikan  ketahanan  pangan  sebagai  suatu
               kondisi dimana masyarakat pada saat yang bersamaan memiliki akses yang cukup baik secara
               fisik maupun ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dietary dalam rangka untuk peningkatan
               kesehatan dan hidup yang lebih produktif. Perbedaan mendasar dari dua definisi ketahanan
               pangan  tersebut  yaitu  pada  Undang-Undang  Pangan  No.  7  Tahun  1996  menekankan  pada
               ketersediaan,  rumah  tangga  dan  kualitas  (mutu)  pangan.  Sedangkan  pada  definisi  USAID
               menekankan pada konsumsi, individu dan kualitas hidup.
                      FAO (2003) mendefinisikan ketahanan pangan sebagai situasi dimana semua rumah
               tangga mempunyai akses baik fisik maupun ekonomi untuk memperoleh pangan bagi seluruh
               anggota keluarganya dan dimana rumah tangga tidak beresiko mengalami kehilangan kedua
               akses  tersebut.  Hal  ini  berarti  konsep  ketahanan  pangan  mencakup  ketersediaan  yang
               memadai, stabilitas dan akses terhadap pangan-pangan utama. Dengan demikian determinan
               dari  ketahanan  pangan  adalah  daya  beli  atau  pendapatan  yang  memadai  untuk  memenuhi
               biaya hidup (FAO, 2003).
                      Berdasarkan pengertian dan konsep tersebut di atas maka beberapa ahli sepakat bahwa
               ketahanan  pangan  minimal  mengandung  dua  unsur  pokok  yaitu  ketersediaan  pangan  dan
               aksesibilitas  masyarakat  terhadap  pangan.  Apabila  salah  satu  unsur  tersebut  tidak  dipenuhi
               maka suatu negara belum dapat dikatakan mempunyai ketahanan pangan yang baik (Arifin,
               2004).  Walaupun  pangan  tersedia  cukup  di  tingkat  nasional  dan  regional,  tetapi  jika  akses
               individu untuk memenuhi kebutuhan pangannya tidak merata, maka ketahanan pangan masih
               dikatakan rapuh. Akses terhadap pangan, ketersediaan pangan dan resiko terhadap akses dan
               ketersediaan  tersebut  merupakan  determinan  yang  esensial  dalam  ketahanan  pangan  (Von
               Braun et.al, 1992).

               Penetapan Pola Pangan Harapan (PPH) Regional
                      Penetapan  PPH  regional  dilakukan  berdasarkan  beberapa  pertimbangan  yaitu
               kemampuan  wilayah  dalam  memproduksi  bahan  pangan,  pola  konsumsi  pangan  dan
               kebiasaan  makan  setempat,  serta  kondisi  sosial  ekonomi,  misalnya  pendapatan  (daya  beli)
               serta memperhatikan Angka Kecukupan Gizi (PPKP BKP Deptan & GMSK IPB, 2005).
                      Tahapan-tahapan  yang  perlu  dilakukan  untuk  memenetapkan  PPH  regional  seperti
               yang dijelaskan dalam PPKP BKP Deptan & GMSK IPB (2005) adalah sebagai berikut :
               1.  Menetapkan  AKE  regional  yang  dalam  penelitian  ini  menggunakan  pendekatan  unit
                   konsumen untuk masing-masing kelompok jenis kelamin dan umur penduduk.
               2.  Menetapkan  komposisi  pangan  (baik  data  konsumsi  maupun  ketersediaan  pangan)
                   berdasarkan  kontribusi  energi  menurut  kelompok  pangan  (%).  Kontribusi  tersebut
                   dihitung berdasarkan perbandiingan konsumsi atau ketersediaan setiap kelompok pangan
                   aktual  dengan  Angka  Kecukupan  Energi  (AKE)  regional.  Komposisi  pangan  tersebut
                   digunakan sebagai gambaran potensi wilayah.
               3.  Menetapkan  presentase  AKE  ideal  untuk  masing-masing  wilayah  (regional)  dengan
                   mempertimbangkan :
                   a.  Presentase AKE (% AKE) konsumsi dan ketersediaan pangan (hasil tahap 2).
                   b.  Kisaran  %  AKE  menurut  FAO-RAPA  (1989)  sebagai  acuan  menuju  komposisi
                      pangan ideal.
                   c.  Konsep  kecukupan  dan  keseimbangan  gizi.  Kecukupan  dan  keseimbangan  gizi
                      terpenuhi  jika  memperhatikan  kaidah  triguna  makanan  yaitu  sebagi  zat  tenaga,  zat


                              “Penyiapan Generasi Muda Pertanian Perdesaan Menuju Indonesia Sebagai Lumbung Pangan Dunia”     299
   305   306   307   308   309   310   311   312   313   314   315