Page 311 - EBOOK_Persiapan Generasi Muda Pertanian Pedesaan Menuju Indonesia Sebagai Lumbung Pangan Dunia
P. 311

SEMINAR NASIONAL 2017
               Malang 10 April 2017

                      pengatur, dan zat pembangun. Konsumsi pangan sumber karbohidrat maksimal 60%
                      dan lemak anatara 10-25% berdasarkan PUGS (Pedoman Umum Gizi Seimbang).
               4.  Menghitung  skor  PPH  dengan  cara  mengalikan  %  AKE  ideal  dengan  bobot  sehingga
                   diperoleh skor AKE ideal  regional  yaitu 100. Dalam perhitungan skor PPH ideal  perlu
                   diperhatikan seni mengjitung skor.
               5.  Untuk menetapkan PPH regional  sebaiknya melibatkan multi stakeholder melalui suatu
                   lokakarya.
                      Penilaian suatu wilayah harus memiliki PPH regional juga didasarkan dengan proporsi
               ketersediaan  maupun  konsumsi  antar  bahan  pangan  dikelompok  pangan  wilayah
               dibandingkan  dengan  proporsi  ketersediaan  maupun  konsumsi  antar  bahan  pangan
               dikelompok  pangan nasional.  Hal  ini seperti  yang dilakukan pada penentuan PPH regional
               oleh PSKPG IPB bekerjasama dengan PPKP BBKP Deptan tahun 2001.
                      Komposisi  konsumsi  pangan  di  setiap  wilayah  yang  proporsi  antar  kelompok
               pangannya  tidak  jauh  berbeda  menunjukkan  bahwa  perilaku  konsumsi  yaitu  kemampuan
               produksi  dan  ketersediaan  pangannya  sama  dengan  kondisi  nasional.  Dengan  demikian
               sasaran  proporsi  ideal  kontribusi  energi  atau  PPH  pada  wilayah  itu  dapat  mengacu  atau
               menggunakan PPH nasional (Hardinsyah, 1988).


               3.  Metodologi
                      Lokasi  penelitian  ditentukan  secara  purposive  di  Kabupaten  Trenggalek  yang
               didasarkan pada kriteria permasalahan pangan dari beberapa kecamatan yang belum berperan
               secara  optimal  dalam  penyerapan  pangan.  Semua  kecamatan  akan  dipilih  menjadi  fokus
               penelitian,  yaitu  Kecamatan  Panggul,  Munjungan,  Watulimo,  Kampak,  Dongko,  Pule,
               Karangan, Suruh, Gandusari, Durenan, Pogalan, Trenggalek, Tugu dan Bendungan. Analisis
               data  yang  digunakan  adalah  analisis  Pola  Pangan  Harapan  (PPH).  Dalam  penentuan  Pola
               Pangan  Harapan  (FAO-RAPA,  1989),  bahan  pangan  dikelompokkan  menjadi  sembilan
               dengan rincian: a) Padi-padian (beras, jagung, terigu dan hasil olahannya); b) Umbi-umbian
               atau pangan berpati (ubi kayu, ubi jalar, kentang, talas, sagu dan hasil olahannya); c) Pangan
               Hewani (ikan, daging, telur, susu dan hasil olahannya); d) Minyak dan lemak (minyak kelapa,
               minyak goreng atau kelapa sawit dan margarin); e) Buah dan biji berminyak (kelapa, kemiri,
               kenari, mete dan  coklat);  f)  Kacang-kacangan  (kedele, kacang tanah, kacang hijau, kacang
               merah,  kacang  polong,  kacang  tunggak  dan  kacang  lainnya);  g)  Gula  (gula  pasir,  gula
               merah/mangkok dan sirup); h) Sayuran dan buah (semua jenis sayuran dan buah-buahan); i)
               Lain-lain (teh, kopi, terasi dan bumbu lainnya).
                      Skor  pangan  ini  diperoleh  dari  hasil  perkalian  antara  tingkat  kontribusi  energi
               kelompok pangan dengan bobotnya. Bobot untuk setiap kelompok pangan didasarkan kepada
               konsentrasi kalori, kepadatan kalori, zat gizi esensial, zat gizi mikro, kandungan serta, volume
               pangan  dan  tingkta  kelezatannya.  Berdasarkan  pertimbangan  tersebut,  maka  bobot  setiap
               kelompok bahan pangan adalah sebagai berikut :
               a.  Padi-padian, umbi-umbian, buah atau biji berminyak dan gula diberi bobot 0,5
               b.  Lemak dan minyak diberi bobot 1
               c.  Pangan hewani, kacang-kacangan, sayuran dan buah diberi bobot 2
               d.  Kelompok lainnya diberi bobot 0
                      Tahapan penilaian skor Pola Pangan Harapan aktual adalah sebagai berikut :
                  1        2         3        4        5        6         7        8        9        10

               1.   Pengelompokan Pangan (kolom 1).
               2.   Menghitung  ketersediaan  energi  menurut  kelompok  pangan  yaitu  menghitung  jumlah
                   energi setiap kelompok pangan dari Neraca Bahan Makanan (kolom 2 dan 3).


                              “Penyiapan Generasi Muda Pertanian Perdesaan Menuju Indonesia Sebagai Lumbung Pangan Dunia”     300
   306   307   308   309   310   311   312   313   314   315   316