Page 169 - Memahami dan Menemukan Jalan Keluar dari Problem Agraria Krisis Sosial Ekologi
P. 169
untuk menghindari pencurian, biasanya dibuatkan suatu
rumah kecil yang diperuntukkan sebagai tempat tinggal
sementara sekaligus berfungsi sebagai tempat penjagaan dan
pos atau pusat pemanenan. Kelima, sebagian warga juga
memanfaatkan lahan untuk membuka sarana perdagangan,
seperti pasar. Di desa Panikel, pembangunan pasar diinisiasi
oleh pemerintah desa bersama warga sekitar, pemerintah
bersedia memberi ijin atas lahan yang diperuntukan sebagai
lokasi perdagangan. Di Desa Ujung Gagak ada lokasi pele-
langan ikan dan kepiting yang difasilitasi oleh masyarakat
untuk bersandarnya kapal-kapal nelayan. Peruntukan lahan
untuk jalur distrubusi dan perdagangan sudah lumayan
berkembang jika dibandingkan dengan pengelolaan pasar yang
pernah difasilitasi oleh proyek Pemerintah Daerah tahun
1997-an. Terbukti, bahwa pasar yang dahulu disediakan melalui
proyek pemerintah, sekarang sudah tidak dimanfaatkan oleh
masyarakat. Masih banyak kendala yang dihadapi, misalnya
ketiadaan pelabuhan dan Tempat Pelelangan Ikan. Hingga
saat ini, nelayan Kampung Laut masih menjual hasil tang-
kapan di Pelabuhan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Majing-
klak. Masyarakat merasa TPI Majingklak adalah TPI lain
daerah yang akan meningkatkan kekayaan daerah di luar
Cilacap.
Kenyataan saat ini di Kampung Laut memperlihatkan
beberapa perubahan pengelolaan dan penguasaan tanah, bisa
dipetakan sebagai berikut:
Land Tenure System
Sistem tenurial di Kampung Laut berubah menjadi
kepemilikan permanen atas Tanah Timbul dengan pengakuan
formal atas bidang tanah. Secara merata, di seluruh desa di
Kampung Laut, hampir semua tanah bangunan sudah
memiliki bukti surat kepemilikan dari Badan Pertanahan
Nasional (BPN) melalui Program Nasional (Prona) yang
155

