Page 54 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 6 OKTOBER 2021
P. 54

Kehilangan Pekerjaan (JKP) terhadap pekerja atau buruh yang mengalami Pemutusan Hubungan
              Kerja (PHK) di masa pandemi Covid-19.


              SERIKAT PEKERJA SOROTI PERGESERAN FILOSOFI PROGRAM JHT

              Pandemi Covid 19 yang hampir dua tahun melanda Indonesia telah memberikan dampak yang
              masif, tak terkecuali terhadap sektor ketenagakerjaan. Hal inilah yang mendasari Komisi IX DPR
              RI menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama dengan Kementerian Ketenagakerjaan,
              BPJS Ketenagakerjaan (BPJAMSOSTEK) dan perwakilan Serikat Pekerja/Buruh guna membahas
              terkait  pengawasan  klaim  Jaminan  Hari  Tua  (JHT),  Jaminan  Pensiun  (JP)  dan  Jaminan
              Kehilangan Pekerjaan (JKP) terhadap pekerja atau buruh yang mengalami Pemutusan Hubungan
              Kerja (PHK) di masa pandemi Covid-19.

              Dirjen Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial (PHI & Jamsos) Kemnaker, Indah
              Anggoro Putri menyatakan bahwa peningkatan angka klaim JHT, salah satunya disebabkan oleh
              banyaknya pekerja yang mengalami PHK.

              Selain itu pihaknya pun mendapati adanya pergeseran filosofi dari program JHT yang seharusnya
              dinikmati  ketika  memasuki  hari  tua  atau  masa  pensiun,  namun  banyak  pekerja  yang  justru
              mencairkan saldo JHT setelah PHK.

              Hal ini juga didasari oleh Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2015 dan Peraturan Menteri
              Ketenagakerjaan (Permenaker) Nomor 19 Tahun 2015 yang memungkinkan bagi para pekerja
              untuk melakukan klaim JHT satu bulan setelah mengalami PHK.

              Namun  saat  ini  Kemnaker  sedang  melakukan  revisi  terhadap  Permenaker  tersebut  untuk
              mengembalikan kepada filosofi program JHT yang seharusnya.
              "Kami merevisi Permenaker nomor 19 tersebut, kita kembalikan kepada filosofi JHT yaitu benar-
              benar sebagai tabungan di masa tua sebagai amanat yang tertera dalam Undang-Undang nomor
              40 tahun 2004 dan juga Peraturan Pemerintah (PP) nomor 46 tahun 2015," ujar Indah dalam
              press release nya yang diterima RRI melalui humas BPJS Ketenagakerjaan Cabang Semarang
              Majapahit, Selasa (05/10).

              Sejalan  dengan  hal  tersebut  Direktur  Pelayanan  BPJAMSOSTEK  Roswita  Nilakurnia  juga
              memaparkan data klaim JHT dalam kurun waktu Desember 2020 hingga Agustus 2021, dan
              dirinya  membenarkan  bahwa  selama  masa  pandemi  terjadi  kenaikan  jumlah  klaim  jika
              dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

              "Hingga Agustus 2021, tercatat 1,49 juta kasus JHT dengan penyebab klaim didominasi oleh
              pengundurkan diri dan PHK. Selain itu mayoritas nominal saldo JHT yang diklaim adalah dibawah
              Rp10 juta dan range umur peserta paling banyak di bawah 30 tahun dimana merupakan usia
              produktif bekerja," ungkapnya.

              Sementara  itu  Sekjen  Konfederasi  Serikat  Pekerja  Seluruh  Indonesia  (K-SPSI),  Hermanto
              Achmad juga menyoroti isu yang sama, dimana saat ini pencairan JHT sangat mudah dan banyak
              diantara pekerja yang menggunakan modus seolah-olah PHK untuk dapat melakukan klaim.

              Sehingga hal ini cenderung tidak sesuai dengan filosofi jaminan sosial yang sejak awal menjadi
              harapan bagi seluruh pekerja Indonesia untuk memiliki hari tua yang terjamin.






                                                           53
   49   50   51   52   53   54   55   56   57   58   59