Page 115 - KLIPING KETENAGAKERJAAN 27 NOVEMBER 2019
P. 115

Title          BURUH NGOTOT HITUNG UPAH PAKAI KEBUTUHAN HIDUP LAYAK
               Media Name     radarcirebon.com
               Pub. Date      26 November 2019
               Page/URL       https://radarcirebon.com/buruh-ngotot-hitung-upah-pakai-kebutuhan-hidu p-layak.html
               Media Type     Pers Online
               Sentiment      Negative






               Buruh yang tergabung dalam Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) terus
               memperjuangkan agar pemerintah mau menghitung besaran upah pekerja dengan
               Kebutuhan Hidup Layak (KHL) di masing-masing daerah. Karenanya, KSPI
               mendesak pemerintah segera merevisi PP Nomor 78 Tahun 2015 tentang
               Pengupahan. Sebab hal itu demi menekan gap atau rentang besaran upah antar
               daerah tidak semakin melebar. "Jadi revisi PP Nomor 78 dan gunakan kenaikan
               upah minimum hanya menggunakan KHL," ujar Presiden KSPI, Said Iqbal di Jakarta,
               Senin (25/11).

               Menurut Said Iqbal, apabila pemerintah menghitung upah dengan hasil survei KHL
               di masing-masing daerah baik kabupaten maupun kota, maka bisa menekan gap
               nominal gaji yang selama ini sudah terjadi. Memang, lanjut Said Iqbal, menghitung
               dengan cara KHL masih terjadi gap. Namun tidak terlalu melebar dibandingkan
               dengan PP 78/2015. "Kalau pakai PP maka gap akan makin melebar tapi kalau pakai
               KHL akan tetap ada gap tapi akan makin mengecil," jelas Said Iqbal.

               Said menjelaskan, perhitungan kenaikan upah berdasarkan KHL juga bisa diimbangi
               dengan pembuatan zonasi industri. Di mana perhitungan KHL bagi industri labour
               intensif alias padat karya berbeda dengan industri capital intensive atau pada
               modal. "Dengan demikian perusahaan tetap punya daya saing dan buruh tetap
               terjamin upah, dan kesejahteraannya," jelasnya.

               Sementara itu, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan P
               Roslani menyatakan, sepakat dengan formulasi kenaikan pada PP 78/2015. Untuk
               tahun 2019, ditetapkan kenaikan sebesar 8,03 persen. Kenaikan tersebut juga
               ditindaklanjuti oleh pemerintah daerah dalam menetapkan gaji.

               Hanya saja dengan penyesuaian upah yang sudah berlaku, besaran di masing-
               masing daerah tidak sama. Seperti daerah Karawang, Jawa Barat menjadi yang
               paling tinggi menjadi Rp4,2 juta per bulan dan Kota Banjar menjadi yang terkecil
               dengan Rp 1,6 juta per bulan. "Kalau itu kenaikannya selalu sama, kan makin lama
               makin tinggi, akibatnya shifting udah mulai terjadi ke daerah-daerah Jawa Tengah
               yang lebih murah," ujarnya.

               Nah, Rosan mengusulkan pemerintah bisa menahan kenaikan di wilayah yang
               upahnya sudah tinggi. "Jadi, mungkin yang sudah Rp 4 juta, mungkin kenaikannya
               5 persen, mungkin yang masih Rp 1,6 juta mungkin boleh naik 8,5 persen,"
               katanya.




                                                      Page 114 of 127.
   110   111   112   113   114   115   116   117   118   119   120