Page 322 - Cantik Itu Luka by Eka Kurniawan
P. 322

ren tak di banyak tempat dalam waktu yang bersamaan, sementara orang
                 yang sesungguhnya mungkin aman di tempat persembunyian. Orang-
                 orang percaya bahwa ia memiliki kesaktian semacam itu, membelah
                 diri nya menjadi begitu banyak dan menipu semua orang.
                    Tapi akhirnya ia tertangkap juga. Sang Shodancho yang mulai pu-
                 tus asa membawa pasukannya kembali ke markas Partai di ujung jalan
                 Belanda itu, untuk menyisir jejaknya sedikit demi sedikit, dan tiba-tiba
                 ia melihatnya masih duduk di beranda ditemani adik iparnya sendiri,
                 persis sebagaimana dikatakan orang-orang yang baru saja dieksekusinya,
                 tengah menunggu koran. Waktu itu hari sudah sore, dan hujan gerimis
                 memenuhi kota. Sang Shodancho merasa malu untuk bertanya ke mana
                 saja ia sepanjang hari, karena tampaknya Kamerad Kliwon, melihat
                 sikapnya, telah duduk di sana sepanjang hari tanpa pernah beranjak
                 ke mana pun.
                    ”Kau ditangkap, Kamerad,” kata Sang Shodancho, ”dan adik iparku
                 yang baik, sebaiknya kau pulang,” ia melanjutkan untuk Adinda.
                    ”Atas dasar apa aku ditangkap?” tanya Kamerad Kliwon.
                    ”Disebabkan kau menunggu koran yang tak akan pernah datang,”
                 kata Sang Shodancho, mencoba selera humornya yang pahit, ”itu ke-
                 jahatan paling berat di kota ini.”
                    Ia menyodorkan tangannya dan Sang Shodancho memborgolnya.
                    ”Shodancho,” kata Adinda sambil berdiri dengan air mata tiba-tiba
                 mengalir di pipinya. ”Izinkanlah aku mengucapkan selamat jalan, kare-
                 na mungkin saja kau mengeksekusi lelaki ini begitu sampai di tahanan.”
                    ”Lakukanlah,” kata Sang Shodancho.
                    Ucapan selamat jalan itu adalah ciuman panjang di bibir Kamerad
                 Kliwon.
                    Berita penangkapannya dengan cepat didengar hampir semua orang
                 di kota itu, mereka yang berhasil lolos dari kematian perang sau dara.
                 Setelah berhasil membunuh komunis-komunis kelas teri yang mencoba
                 melarikan diri, masih dengan tangan berlepotan darah, orang-orang
                 ini segera bergerombol dan memenuhi ruas jalan antara markas Partai
                 Komunis dan kantor rayon militer. Seolah semua di antara mereka
                 memiliki kenangan khusus terhadap Kamerad Kliwon, mereka menanti
                 dengan sangat sabar lelaki itu lewat.

                                             315





        Cantik.indd   315                                                  1/19/12   2:33 PM
   317   318   319   320   321   322   323   324   325   326   327