Page 52 - BAHAN AJAR MSDM ORGANISASI PUBLIK BY JANDRY P. Z RATU KADJA, SE.,M.Si
P. 52

Manajemen Sumber Daya Manusia Dalam Organisasi Publik  | 47



              diketahui  bahwa  pemerintah  memiliki  dana  yang  terbatas,  sedang
              warga  yang  berminat  mendapatkan  pekerjaan  pada  sektor  publik
              sangat  besar.  Pada  titik  ini  terjadi  dilema  antara  pemenuhan  nilai
              keadilan  dan  nilai  efisiensi.  Efisiensi  menghendaki  kemampuan  dan
              keterampilan  tinggi,  sedang  nilai  keadilan  pada  akomodatif  terhadap
              berbagai  lapisan  masyarakat  dengan  mengabaikan  kemampuan  dan
              keterampilan.
                    Nilai respon politik perlu diperhatikan dalam merekrut eksekutif
              politik  sebagai  alat  untuk  mengontrol  para  birokrasi  dalam
              pemerintahan.  Pemimpin  politik  perlu  memilih  orang  yang  memiliki
              kemampuan   untuk   menduduki   suatu  jabatan.   Tujuannya   agar
              responsif  terhadap  keinginan-keinginan  atau   aspirasi   masyarakat,
              begitu  pula  agar  dapat  mengadakan  kontrol   terhadap   birokrat
              pemerintah.
                    Orang yang diangkat dalam jabatan politik akan memperlihatkan
              kesetiaan  kepada  pejabat  yang  mengangkatnya.  Dia  tidak  lagi  setia
              terhadap   tanggung   jawab-tanggung   jawab   yang   seharusnya   dia
              lakukan sesuai dengan tuntutan jabatan itu, tetapi dia berusaha untuk
              menyenangkan hati orang yang mengangkatnya. Mengapa demikian ?,
              supaya  dia  tetap  duduk  dalam  jabatan  tersebut  pada  periode
              berikutnya.  Kalau  terjadi  demikian  pertanyaan  selanjutnya  dapat
              muncul,  kapan  pejabat  politik  tersebut  responsif  terhadap  keinginan-
              keinginan  atau  aspirasi  dari  masyarakat,  atau  kapan  melakukan
              kontrol terhadap birokrasi pemerintah ?
                    Berdasarkan   hal   di   atas,   asumsinya   bahwa   tidak   mungkin
              responsif terhadap kepentingan masyarakat kalau orang yang diangkat
              dalam    jabatan  politik  adalah  orang  yang  hanya    mempunyai
              kemampuan  menyenangkan atasannya dan tidak punya  kemampuan
              yang  sesuai  dengan  tuntutan  tugas  yang  dipikulnya.  Orang  yang
              mengangkat  juga dengan sengaja mengangkat dalam jabatan tersebut
              untuk  menjaga  kepentingannya  dan  tetap   terjadi  hubungan  “patron-
              klien”.  Salah  satu  akibat  yang  dapat  muncul  adalah  terjadinya  “kutu
              loncat”  –  orang  menduduki  suatu  jabatan  tertentu  tidak  pernah
              diperkirakan     sebelumnya  atau  tidak  sesuai  dengan  prosedur  yang
              berlaku.  Apa  yang  terjadi  dalam  jabatan  politik,  terjadi  pula  dalam
              jabatan  karier,  karena  sangat  kurangnya  kontrol  terhadap  birokrasi.
              Birokrasi  juga  sudah  tidak  responsif  terhadap  kebutuhan  mayarakat.
              Padahal  tugas  utama  mereka  adalah  memberi  pelayanan  kepada
              masyarakat,  tetapi  kenyataanya  sering  terbalik,masyarakat  yang
              memberikan   pelayanan   kepada   birokrasi   –   masyarakat   dengan
              terpaksa “membeli” hak yang seharusnya diperoleh.
              Pengaruh Eksternal Rekrutmen
                    Ada  tiga  pengaruh  eksternal  dalam  rekrutmen,  yaitu  kondisi
              ekonomi, faktor politik dan hukum tindakan affirmative (Bernardin dan
              Russel, 1993).
   47   48   49   50   51   52   53   54   55   56   57