Page 180 - PDF Compressor
P. 180
Kelima Tanggung Jawab; nilai pertanggung jawaban reporter
lebih ditampakkan. Misalnya, pandangan tegas bahwa fiksi hanyalah
sebuah gaya dan bahwa jurnalisme sastra lebih memaparkan fakta.
Artinya, reporter bertanggung jawab atas setiap fakta yang ia tulis dalam
Jurnalisme Sastra.
Keenam Simbolisme; tiap paparan fakta, meskipun terlihat remeh
atau hanya menyangkut soal-soal kecil, sebenarnya mengandung gagasan
yang sengaja disusun sedemikian rupa karena terkait dengan hal-hal
yang lebih luas dan pemaknaan yang dalam.
Dengan adanya kesemua elemen di atas, Setiati (2005)
mengungkapkan, bentuk penulisan Jurnalisme Sastra membuat laporan
berita tidak lagi sekedar pengungkapan fakta, tetapi berusaha
mengungkapkan ‘mengapa dan bagaimana’ suatu peristiwa terjadi.
Jurnalisme Sastra sebagai perpaduan antara bentuk penulisan Jurnalisme
dengan Sastra yang dapat dikenali bentuknya lewat unsur intrinsik
dimana digunakan setidaknya 10 prinsip penulisan Jurnalisme Sastra.
Jurnalisme Sastra juga merupakan suatu proses, pengelolaan, dan cara
penyampaian laporan (berita) sebagai hasil kerja seni kreatif wartawan.
Karenanya meliputi aspek mulai dari tahap peliputan, pengumpulan
bahan berita, dan penulisan berita sebagai praktik Jurnalisme Sastra yang
memakan waktu lebih lama dan perencanaan tertentu, dan teknik
penulisan yang berbeda dari praktik jurnalisme konvensional.
C. Feature
Varian lainnya sebagai gaya baru news jurnalism selain jurnalisme
sastra adalah feature (baca: ficer). Sebagian ahli berpendapat bahwa
antara jurnalisme sastra dengan feature sama, tetapi sebagian lain
berpendapat berbeda. Namun, secara substansial di antara kedua tulisan
ini banyak persamaannya, tetapi ada juga perbedaannya. Oleh karena itu,
dalam buku ini, feature dijadikan salah satu subbab agar pembaca dapat
membandingkan kedua bentuk tulisan ini. Apalagi dalam dunia
jurnalistik di Indonesia lebih dikenal dan familiar feature ketimbang
jurnalisme sastra. Hal itu dibuktikan bahwa buku-buku yang mengupas
feature lebih banyak; Jenis tulisan ini pun acapkali dijadikan materi
kuliah khusus; Bahkan di media massa, terutama media cetak sering kali
diberikan kolom khusus yang langsung ber-rublik feature.
Menurut Romli (2003:57) feature secara harfiah artinya segi,
keistimewaan, menampilkan, atau menonjolkan. Feature adalah jenis
tulisan di media massa, selain berita dan opini, yang memfokuskan pada
segi (angle) tertentu sebuah peristiwa dan menonjolkannya. Karena itu,
feature disebut pula ‚karangan khas‛.
178