Page 181 - PDF Compressor
P. 181

‚Kita punya kisah atas fakta-fakta telanjang dan itu kita sebutkan
                     sebagai berita,‛ kata William L. Rivers. ‚Di samping berita, kita jumpai
                     lagi tajuk rencana, kolom, dan tinjauan, yang kita sebutkan dalam artikel
                     atau  opinion  pieces.  Sisanya  yang  terdapat  dalam  lembaran  surat  kabar
                     itulah yang disebut feature.‛
                            Mencermati  pendapat  tersebut  menunjukkan  bahwa  feature
                     dominan dalam media cetak, terutama surat kabar. Bahkan, Rivers berani
                     mengatakan  bahwa  selain  opini  dan  berita,  bentuk  tulisan  yang  ada  di
                     media  cetak  adalah  feature.  Pendapat  tersebut  dapat  dimaknai  bahwa
                     keberadaan feature di media cetak dominan, sedangkan jurnalisme sastra
                     nyaris tidak ada atau langka. Makna lain dari pendapat tersebut, bisa saja
                     diasumsikan  bahwa  karena  memiliki  kemiripan,  maka  tulisan  dalam
                     bentuk jurnalisme sastra seringkali dikategori feature. Hal itu dilakukan
                     bisa  untuk  memudahkan  penyebutan  atau  memang  secara  teoretis
                     jurnalisme sastra bagian dari feature.
                            Sifat  tulisan  feature  lebih  ‚menghibur‛  dan  ‚menjelaskan
                     masalah‛  daripada  ‚menginformasikan‛  karena  feature  tulisan  yang
                     menuliskan  peristiwa  disertai  penjelasan  riwayat  terjadinya,  duduk
                     perkaranya, proses pembentukannya, dan cara kerjanya. Ia lebih banyak
                     mengungkap  unsur  how  dan  why  sebuah  peristiwa,  sehingga  mampu
                     menyentuh  ketertarikan  manusiawi  (human  interest)  atau  menggugah
                     perasaan (human touch).
                            Feature  dapat  berisi  hal-hal  yang  mungkin  diabaikan  oleh  news
                     dan  relatif  tidak  akan  pernah  basi.  Karena  itu,  penulis  feature  harus
                     memiliki ketajaman dalam melihat, memandang, dan menghayati suatu
                     peristiwa.  Ia  harus  pula  mampu  menonjolkan  yang  belum  terungkap
                     seutuhnya.
                            Dalam konteks tersebutlah terdapat perbedaan yang signifikan di
                     antara jurnalisme sastra dengan feature. Kendati keduanya ditulis untuk
                     menghibur  dan  sebagai  alternatif  laporan  jurnalistik  wartawan  selain
                     berita, tetapi masing-masing memiliki kekuatan yang berbeda. Keduanya
                     menyajikan fakta, tetapi jurnalisme sastra mengungkap semua informasi
                     unsur  5W+1H  dalam  perspektif  penyajian  karya  sastra,  seperti  cerpen
                     atau  novel,  sehingga  Who  berkembang  menjadi  karakter,  What  menjadi
                     alur, Where menjadi latar (setting), When menjadi kronologi pengadegan,
                     Why menjadi motif, dan How menjadi narasi. Sementara itu, feature fokus
                     pada jawaban why dan how. Pertanyaan yang memerlukan jawaban yang
                     runtut, rinci, dan bisa jadi panjang, sehingga penuh deskriptif, ekpositif,
                     dan naratif.
                            Dalam  konteks  historis,  kelahiran  feature  pun  sama  dengan
                     kelahiran  jurnalisme  sastra,  yakni  berangkat  dari  kejemuan  para
                                                       179
   176   177   178   179   180   181   182   183   184   185   186