Page 183 - PDF Compressor
P. 183
peristiwa, dialog-dialog yang mantap dan memang diperlukan, kebiasaan
yang terinci serta emosi yang menghidupkan. Dalam konteks inilah,
Romli menyamakan fearure dengan jurnalistik sastra. Menurutnya,
feature merupakan karya jurnalistik aliran ‚Jurnalisme Baru‛ (New
Journalism) atau ‚Jurnalistik Sastra‛ (Literacy Journalism), yaitu teknik
penulisan jurnalistik bergaya sastra; menampilkan fakta secara mendalam
dengan menampilkan teknik fiksi atau menggabungkan keterampilan
laporan interpretatif dengan teknik penulisan karya fiksi. Jurnalisme baru
diperkenalkan oleh pengarang atau sastrawan yang bekerja sebagai
wartawan.
Memang tidak dapat disangkal, keberadaan tulisan yang
berbentuk feature ataupun jurnalisme sastra pada masa sekarang sangat
diperlukan, terutama oleh media cetak. Ketika televisi dan radio
merambah sajian informasi, maka surat kabar harus memiliki sajian
alternatif selain berita langsung. Apalagi bagi majalah mingguan atau
bulanan, feature dan jurnalisme sastra adalah bentuk berita alternatif
untuk bersaing dengan media elektronik.
Apalagi bentuk feature kini makin varian. Bahkan banyak juga
feature yang dapat memberikan pendidikan alih-alih pengetahuan
kepada publik, seperti hasil riset dan penyelidikan (investigative reporting).
Apalagi dengan munculnya jenis tulisan interpretative reporting, opini
sangat dibolehkan, bahkan merupakan keharusan jika datangnya dari
pihak-pihak atau narasumber yang kompeten sesuai dengan substansi
informasi, misalnya dari para pakar. Kepakaran atau orang yang dapat
dianggap pakar sehingga ‚berwenang‛ untuk memberikan opini dalam
sebuah peristiwa, dalam perpektif media massa setidaknya ada tiga
pihak.
Pertama seorang ilmuwan. Seseorang yang pendidikannya sudah
mencapai tingkat puncak, misalnya, professor atau doktor (S-3), maka ia
dapat dianggap pakar sesuai dengan bidang ilmunya. Oleh karena itu,
jika ada peristiwa atau persoalan yang terkait dengan latar belakang
disiplin ilmunya, ia layak diberikan kesempatan untuk menyampaikan
opininya. Secara yuridis pun pendapat orang yang memiliki kepakaran di
bidang kajian ilmu tertentu diakui, misalnya, mereka seringkali dijadikan
saksi ahli dalam persidangan di pengadilan, sehingga pendapatnya dapat
meringankan atau memberatkan hukuman bagi tersangka. Bahkan,
banyak juga kasus seorang tersangka tertentu dibebaskan oleh hakim
karena keterangan saksi ahli. Apalagi pada masa kini, terutama televisi
seringkali menghadirkan pakar untuk mengupas sebuah persoalan yang
berkembang, misalnya dalam talkshow atau kegiatan diskusi lainnya
181