Page 32 - hujan
P. 32

Hampir  tidak  ada  bangunan  yang  utuh  sepanjang  jalan.  Re runtuhan  gedung

                memenuhi  jalan.  Bongkahan  bangunan  raksasa  melintang,  meremukkan  mobil-

                mobil.  Beberapa  bus  terguling.  Penduduk  yang  selamat  berada  di  luar,  tidak  ada
                yang  berani  ma suk  kembali  ke  dalam  bangunan,  selain  karena  khawatir  gempa

                susulan, konstruksi bangunan yang retak-retak meng khawatirkan.

                  Anak    laki-laki   itu   berlari   menuju   taman   kota,   dua   ratus   meter   dari   lubang
                tangga   darurat   kereta   bawah    tanah.   Itu   pilihan   cepat   yang   brilian.   Mereka

                berteduh    di   bawah   rumah-rumahan      plastik.   Lail   tahu   tempat   itu.   Dia   sering

                diajak  ayahnya  pergi  ke  taman  kota,  bermain  di  hamparan  pasir,  atau  menaiki
                bebek-bebekan  di  danau  dekatnya,  atau  hanya  duduk  di  bawah  rumah-rumahan

                plastik sambil menghabiskan es krim.

                  Apa  kabar  ayahnya?  Lail  menyeka   wajah  yang  basah.  Jaket  yang  dia  kenakan
                menutup     hingga   kepala,   seragam   sekolahnya   kering.   Mungkin    Ayah   baik-baik

                saja,  Lail  berkata  dalam  hati,  mencoba  meng hibur  dirinya  sendiri.  Dia  pernah

                menonton  acara  televisi  tentang  gempa  bumi.  Itu  hanya  terjadi  radius  ratusan
                kilometer. Lail tidak punya ide sama sekali jika gempa tadi telah meng hancur kan

                dua   benua,   dan   kota   tempat   ayahnya   bekerja   akan   terhapus   total   dari   peta,

                dihantam     tsunami   setinggi   empat   puluh   meter.   Yang   sebenarnya   terjadi,   ayah
                Lail  panik  dan  berusaha  meng hubungi  ibunya  namun  sia-sia,  tidak  ada  jaringan

                komuni kasi  yang  aktif.  Dan  enam  jam  lagi,  gelombang  laut  mahadahsyat  akan

                meng habisi pesisir pantai.

                  ”Siapa  namamu?”  anak  laki-laki  itu  bertanya,  mengibaskan  air  dari  rambutnya,
                bagian atas seragam sekolahnya basah.

                  ” Lail,” jawabnya pendek.
                  ” Namaku Esok.”

                  Lail   mengangguk,    memperhatikan      anak   laki-laki   yang   se jengkal   lebih   tinggi

                dibanding dirinya. Seragam sekolah mereka sama.

                  ” Kamu satu sekolah denganku?” Esok bertanya lebih dulu.
                  Lail  mengangguk  lagi.  Ada  banyak  murid  di  sekolahnya,  dari  kelas  1  hingga

                kelas  12.  Dia  tidak  ingat  satu  per  satu,  termasuk  anak  laki-laki  yang  berteduh
   27   28   29   30   31   32   33   34   35   36   37