Page 37 - hujan
P. 37
5
2
RUANGAN putih 4 x 4 m dengan lantai pualam tampak le ngang.
Gadis berusia 21 tahun yang duduk di atas sofa hijau me nyeka ujung matanya.
Mengenang dan menceritakan kembali kejadian delapan tahun lalu itu tidak
mudah. Bahkan dia baru mulai pada hari pertamanya.
”Apakah ibu anak laki-laki itu selamat?” Elijah bertanya. Ada lah tugasnya
menjaga ritme cerita dari pasien, memastikan se mua hal disampaikan.
Gadis di atas sofa hijau mengangguk.
” Kondisinya buruk. Tubuhnya tertimpa dua rak toko. Kakinya terimpit, tidak
bisa bergerak. Tapi ibunya selamat. Seperti ada ke ajaiban di sana.”
Lengang lagi sejenak.
” Keajaiban.... Kamu benar, itu sebuah keajaiban,” Elijah ber kata lembut,
menghela napas samar.
”Siapa pun yang selamat dalam kejadian itu sesungguhnya men dapatkan
keajaiban. Hanya sepuluh persen penduduk bumi yang selamat, satu dibanding
sepuluh. Takdir tanpa perasaan memilih siapa pun yang dikehendakinya.
Mungkin keajaiban itu datang melalui pertolongan serta doa-doa dari orang
yang tidak kita kenal.”
***
Esok berseru melihat tubuh ibunya. Sendirian dia berusaha me mindahkan rak
toko, tetapi gagal. Tenaganya terlalu lemah, sementara rak terlalu besar. Di luar
Lail berteriak meminta tolong, membuat dua petugas yang sedang di dekat
mereka berlarian.
”Ada korban yang terjepit. Segera kirim ambulans.”