Page 40 - hujan
P. 40
Lail melangkah keluar. Matahari tidak bersinar terik seperti biasanya. Dia
mendongak. Langit seperti tertutup sesuatu. Lail terbatuk menghirup udara
pagi. Abu letusan gunung purba yang telah menyebar jauh 24 jam terakhir telah
tiba di kota mereka. Seperti cendawan raksasa, abu itu akan menutupi seluruh
per mukaan bumi dalam waktu beberapa hari ke depan. Atap-atap tenda
dipenuhi tumpukan abu setebal dua sentimeter, dan guguran abu terus turun.
” Kamu harus mengenakan masker, Nak,” salah satu marinir menegurnya.
Lail menoleh.
Marinir itu memberikan masker kain.
”Setiap kali berada di ruangan terbuka, kenakan masker. Abu ini berbahaya
bagi kesehatan.”
Lail mengangguk, bilang terima kasih, menerima masker itu, dan
mengenakannya.
Jika letusan gunung masuk skala 4 atau 5, abu yang disembur kan gunung itu
radiusnya terbatas dan tidak tinggi. Dalam bebe rapa hari, seluruh abu akan
luruh ke permukaan bumi. Tapi ke tika gunung purba seperti Toba meletus
73.000 tahun lalu, material abu yang dikeluarkannya menyembur hingga lapisan
stratosfer dengan radius puluhan ribu kilometer. Abunya tiba di benua Eropa
dan Amerika. Hal yang sama terjadi dengan letus an gunung kemarin pagi.
”Selamat pagi, Lail.”
Lail menoleh. Itu suara Esok. Dia mulai hafal suara serak itu.
” Kamu sudah mengenakan masker?” Esok mendekat. Dia juga
mengenakannya.
Lail mengangguk, menatap sekitar.
”Abu ini akan terus turun, semakin tebal. Kata petugas, nanti sore tebalnya
mencapai lima senti.” Esok ikut mendongak, me natap langit yang kelabu. Tidak
ada awan di sana, melainkan abu mengambang.
Lail diam, menyeka anak rambut yang mengenai ujung mata.
” Kita harus ke stadion dekat sini, Lail. Melapor.” Esok teringat sesuatu. Dia
sempat mendengar pengumuman dari petugas. ” Marinir membangun tempat