Page 41 - hujan
P. 41

pengungsian di sana.”

                  ” Bagaimana dengan ibumu?” Lail bertanya pelan.

                  ” Masih  belum  siuman.  Tapi  kata  dokter,  kondisinya  stabil.  Ibuku  harus  tetap
                dirawat  di  rumah  sakit.  Ayo,  Lail.  Mungkin  ada  sarapan  di  sana.  Perutku  lapar.”

                Esok melangkah lebih dulu.

                  Letak  stadion  itu  tidak  jauh,  dibandingkan  dengan  jalan  kaki  mereka  kemarin.
                Hanya     delapan   ratus   meter.   Mereka   berjalan   tanpa   bicara,   memperhatikan

                sekitar.   Pohon-pohon     diselimuti   abu,   juga   aspal,   dan   atap   rumah   yang   masih

                berdiri. Abu di mana-mana.
                  Stadion ramai oleh lautan manusia saat mereka tiba. Ada puluhan meja tempat

                petugas  mendaftar  penduduk.  Esok  me langkah  ke  salah  satunya.  Lail  mengikuti

                dari belakang. Saat itulah Lail tahu kabar tentang ayahnya.
                  Petugas    menanyakan      nama,    alamat,   keluarga   yang   telah   me ninggal,   dan

                keluarga    yang   kemungkinan      masih   hidup.   Lail   me nyebutkan    kota   ayahnya

                bekerja  di  luar  negeri,  bertanya  apakah  ada  kabar  dari  sana,  apakah  ada  telepon
                yang bisa digunakan untuk menghubungi kota itu.

                  ” Tidak ada, Nak.” Petugas menggeleng.

                  ” Tidak ada telepon yang bisa dipinjam?” Lail mendesak.
                  ” Tidak ada yang selamat di kota itu, Nak.” Petugas menghela napas prihatin.

                  Eh? Apa maksudnya? Lail menatap bingung. Wajahnya pu cat.

                  ” Kami   menerima      kabar   radio   beberapa    jam   lalu,   seluruh   pe sisir   benua

                dihantam  tsunami  20  hingga  40  meter.  Kota  tempat  ayahmu  bekerja  menerima
                pukulan paling serius. Mustahil ada yang bisa selamat dari hantaman gelombang

                air setinggi itu.”
                  Lail menggeleng. Dia hendak berteriak, tidak terima. Itu pasti kabar keliru.

                  Esok menggenggam jemarinya, berusaha menenangkan.

                  ”Aku   harus   menelepon    ayahku.   Aku    ingin   meneleponnya,    mem beritahukan

                bahwa Ibu sudah meninggal.” Lail terisak.
                  Mata  Lail  basah.  Baru  kemarin  sore  dia  menyaksikan  sendiri  ibu nya  meluncur

                jatuh   ke   lorong   kereta   gelap.   Pagi   ini   dia   me nerima   kabar   buruk   berikutnya.
   36   37   38   39   40   41   42   43   44   45   46