Page 38 - hujan
P. 38
Salah satu petugas memeriksa cepat ke dalam toko, bicara lewat handy talkie
yang dibawanya. Temannya juga ikut masuk. Mereka hati-hati mengangkat rak.
Ibu Esok tidak sadarkan diri. Wajah dan tubuhnya putih oleh tepung terigu.
Lima menit, salah satu ambulans merapat di depan toko. Tandu diturunkan.
Tubuh ibu Esok dibawa hati-hati. Lail dan Esok ikut naik ke dalam ambulans.
Dengan sirene kencang, mobil itu membelah jalanan basah, menuju rumah sakit
yang masih bisa beroperasi di tengah situasi kacau-balau.
Terlalu banyak korban di kota itu, terlalu sedikit tenaga medis. Separuh lebih
rumah sakit ambruk. Instalasi gawat darurat terganggu, tapi ibu Esok berhasil
mendapatkan per tolongan pertama. Ada ribuan korban lain yang tidak seber-
untung ibunya, terlambat ditolong. Berhari-hari kemudian, lebih banyak lagi
korban yang ditemukan meninggal tanpa sempat me nerima pertolongan.
Mereka terjepit di bawah tembok, ter timbun di lantai bawah, kehabisan
makanan dan minuman.
Jaringan listrik di gedung-gedung penting seperti rumah sakit segera menyala
dengan menggunakan genset. Beberapa alat ko mu nikasi juga bekerja malamnya.
Telepon satelit bisa diguna kan—selain handy talkie yang tidak membutuhkan
jaringan. Berita dari berbagai negara berhasil dikirim lewat radio 24 jam se telah
kejadian, cara paling konvensional. Tapi sisanya butuh waktu lama untuk pulih.
Siaran televisi baru pulih dua bulan ke mudian, dengan cakupan terbatas, dan
kualitas tayangan bu ruk.
Malam pertama, Lail dan Esok menginap di rumah sakit yang merawat ibu
Esok. Lebih tepatnya itu rumah sakit darurat. Bangunannya hancur separuh,
tapi rumah sakit itu masih bisa ber operasi. Dokter menggunakan peralatan
medis yang tersisa, juga obat-obatan. Tenda-tenda besar didirikan marinir di
hala man rumah sakit dua jam setelah gempa. Pasukan militer itu me ngagumkan.
Mereka juga kehilangan keluarga, kerabat, dan rumah, tapi dari barak militer
mereka menyebar ke seluruh kota, bekerja cekatan membantu apa saja sepanjang
sore. Prio ritas pertama adalah membantu rumah sakit.
” Kamu sudah makan, Lail?” Esok bertanya, beranjak duduk di sebelah. Pukul