Page 42 - hujan
P. 42

Ayahnya juga telah meninggal.

                  ” Maafkan aku, Nak.” Petugas menelan ludah. ” Kalian bisa me nemui petugas di

                dalam  stadion.  Mereka  akan  memberitahu kan  lokasi  tenda  kalian.  Nama  kalian
                berdua  sudah  terdaftar.  Ada  pakaian  ganti,  selimut,  masker,  dan  kebutuhan  lain.

                Juga  makan an  dari  dapur  umum.  Sekarang  waktunya  sarapan.  Kami  belum  bisa

                menyediakan air bersih untuk mandi, tapi untuk kamar kecil sudah tersedia.”
                  Esok  menarik  Lail  agar  segera  masuk  ke  stadion.  Di  belakang  mereka  terdapat

                antrean panjang.

                  ” Berikutnya,  maju!”  petugas  berseru.  Dia  tidak  bisa  berhenti  melayani  antrean
                hanya    karena   tangisan   Lail.   Lagi   pula,   ada   ba nyak   sekali   pengungsi   yang

                menangis pagi ini.

                                                            ***
                Lail hanya diam sepanjang hari, melamun.

                  Berita   tentang   ayahnya   telah   memukul    sisa   semangat   hidup nya.   Dia   masih

                berharap  ayahnya  akan  pulang  minggu  depan  sesuai  jadwal.  Mereka  berkumpul
                kembali.  Dia  bisa  ikut  ayahnya  pindah.  Itulah  satu-satunya  skenario  yang  ada  di

                kepala  Lail  sejak  gempa  kemarin  pagi.  Bukankah  kota  tempat  ayahnya  be kerja

                jauh sekali? Bagaimana mungkin bencana gunung meletus juga tiba di sana?
                  ” Kamu tidak menghabiskan sarapanmu, Lail?” Esok ber tanya.

                  Lail  menunduk.  Sejak  tadi  dia  hanya  mengaduk  makanannya,  hanya  satu-dua

                sendok masuk ke mulutnya. Dia kehilangan se lera makan.

                  Ibunya  meninggal  di  lorong  kereta  bawah  tanah,  dan  sekarang  apa  yang  akan
                dia   lakukan   tanpa   ayahnya?   Mata   Lail   berkaca-kaca.   Butir   air   menggenang   di

                sudutnya, membesar, lantas jatuh mengalir di pipi. Lail selalu suka hujan. Dalam
                hidupnya,     se luruh   kejadian   sedih,   seluruh   kejadian   bahagia,   dan   seluruh

                kejadian  penting  terjadi  saat  hujan.  Pagi  ini  dia  tahu  ayahnya  telah  pergi  selama-

                lamanya  ketika  hujan  abu  turun  membungkus  kota.  Bukan  hujan  air,  tapi  tetap

                saja esensinya hujan.
                  Bagaimana dia akan menghapus semua kenangan buruk ini?
   37   38   39   40   41   42   43   44   45   46   47