Page 44 - hujan
P. 44
Menyusul letusan gunung kemarin pagi, miliaran emisi gas sulfur dioksida
yang sama juga memenuhi lapisan stratosfer. Gas itu sepertinya mulai bekerja,
membuat penduduk kota tidur me ringkuk kedinginan. Penghuni tenda
pengungsian amat ber untung. Tidak semua penduduk bumi punya tempat
bermalam yang baik setelah gunung meletus. Jutaan penduduk meninggal
karena suhu dingin.
Lail tidak bisa tidur dengan cepat. Dia menatap lamat-lamat atap tenda. Di
sekitarnya 20-an anak-anak usia di bawah lima belas tahun telah terlelap. Ada
banyak yang dipikirkan Lail, ten tang ibunya dan ayahnya. Dia tidak menangis,
tapi seperti ada bagian yang kosong di hatinya dibawa pergi—yang dia tidak
mengerti. Tiga malam lalu dia masih tidur di atas kasur empuk. Ibu nya
mengecup keningnya, mengingatkan besok sekolah, bilang selamat tidur. Malam
ini dia tidur di dalam tenda darurat pengungsian, cepat sekali semuanya
berubah.
Lail jatuh tertidur lewat tengah malam, dan terbangun pukul delapan pagi—
Esok yang membangunkannya.
Bukankah di luar masih gelap? Wajah Lail bertanya muram. Dia melihat ke
arah dinding tenda.
”Sudah pukul delapan, Lail. Kamu harus antre sarapan, sebelum kehabisan.”
Sebagai jawaban, Lail menarik kembali selimutnya, menutupi wajah.
” Lail?”
”Aku tidak lapar,” Lail menjawab pendek.
” Kamu harus makan. Atau nanti jatuh sakit. Sudah sejak ke marin pagi kamu
tidak makan. Ayo.” Esok menarik paksa lengan Lail.
Tersuruk-suruk Lail mengikuti Esok, mengenakan masker sebelum keluar.
Stadion dipenuhi abu setebal lima sentimeter. Saat kaki meng injak rumput,
abu itu melesak. Semua terlihat kelabu. Atap tenda, bangunan stadion yang
tersisa, mobil, dan peralatan logistik tertutup abu tebal.
Lail mendongak. Langit terlihat remang, seperti masih malam. Jarak
pandangnya terbatas. Lail tidak bisa melihat pucuk-pucuk tenda di kejauhan,